PEMALAS ITU KEAHLIANNYA HANYALAH MENCARI ALASAN
Alasan Selalu Lebih
Banyak dari Usaha
Bagi orang yang rajin, satu alasan untuk
berbuat sudah cukup. Namun bagi pemalas, seribu satu alasan tersedia setiap
kali ada tugas yang harus diselesaikan.
·
"Waktu belum
pas."
·
"Saya belum
siap."
·
"Nanti saja,
besok lebih cocok."
·
"Bukan tugas
saya."
·
"Kalau saya
lakukan, nanti yang lain ikut menumpuk."
Kata-kata ini terdengar masuk akal, padahal
hanyalah benteng untuk melindungi diri dari kerja keras. Alasan menjadi tameng
yang nyaman — karena dengan alasan, ia tidak perlu berbuat apa-apa, sekaligus
merasa tidak bersalah.
Alasan Menjadi
Kebiasaan yang Mengerikan
Awalnya, mencari alasan hanyalah cara agar
tidak disukai orang lain menganggap diri malas. Lama-kelamaan, hal ini berubah
menjadi kebiasaan yang mendarah daging.
Ketika pekerjaan tidak selesai, alasannya
sudah disiapkan sebelum ditanya.
Ketika kesempatan datang, ia mencari alasan
untuk menolak.
Ketika orang lain maju, ia mencari alasan
untuk meremehkan, berkata: "Ia hanya beruntung."
Ia tidak sadar, setiap kali mengucapkan
alasan, ia sedang menutup pintu kemajuan sendiri. Alasan yang diucapkan untuk
menghindari kerja, pada akhirnya justru mengurangi peluangnya untuk berkembang.
Saat Kesempatan
Hilang, Alasan Semakin Keras
Yang menyedihkan adalah: ketika kesempatan
sudah lewat, pemalas tidak menoleh pada dirinya sendiri. Ia justru semakin
lihai mencari siapa yang harus disalahkan.
·
Jika gagal, alasannya
orang lain tidak menolong.
·
Jika tertinggal,
alasannya keadaan tidak mendukung.
·
Jika miskin, alasannya
nasib tidak berpihak.
Ia tidak pernah menyadari bahwa kegagalannya
bukan karena langit tidak berpihak, melainkan karena ia selalu menunda dan
mencari jalan termudah untuk menghindari usaha.
Perbedaan Orang
Berhasil dan Pemalas
Perbedaannya sederhana saja:
·
Orang yang maju
berkata: "Bagaimana saya bisa melakukannya?"
·
Orang yang malas
berkata: "Mengapa harus saya yang melakukannya?"
Satu orang sibuk mencari cara, yang lain sibuk
mencari alasan. Satu orang bergerak meski belum sempurna, yang lain diam
menunggu segala sesuatu sempurna — yang tidak akan pernah datang.
Penutup
Ingatlah: alasan tidak akan pernah mengerjakan
pekerjaanmu, tidak akan membantumu maju, dan tidak akan menyejahterakan
keluargamu. Alasan hanya menyelamatkanmu sebentar dari lelah, tetapi menjebakmu
selamanya di tempat yang sama.
Jangan jadikan alasan sebagai keahlianmu.
Jadikanlah kerja, ketekunan, dan keberanian berusaha sebagai tanda namamu.

No comments:
Post a Comment