OPORTUNIS
Di sebuah kampung tinggallah empat bersaudara: Pak Darmo, Pak Joko, Pak Budi, dan yang bungsu Pak Tono. Sejak kecil, mereka berjanji akan saling menjaga. Namun seiring dewasa, sifat asli Pak Tono mulai terlihat.
Setiap kali salah satu saudaranya mendapat rezeki atau keberhasilan, Pak Tono selalu datang lebih dulu. Membawa buah tangan, menyapa hangat, menawarkan bantuan — padahal tujuannya satu: meminta bagian keuntungan atau pinjaman yang tak pernah dikembalikan. Begitu urusan menguntungkan itu selesai, ia hilang begitu saja, tak lagi menyapa.
Suatu masa, keberuntungan itu berpaling. Usaha Pak Darmo bangkrut, rumahnya sempat digadaikan, dan ia jatuh sakit. Seharusnya saudara saling menguatkan, tapi justru di sinilah sifat asli Pak Tono terlihat paling nyata.
Alih-alih menolong, Pak Tono justru datang dan menuding-nuding:
"Kau jatuh miskin karena hidupmu boros dulu! Kau sombong saat kaya, sekarang baru menampakkan wajah minta tolong."
Ia pergi ke Pak Joko lalu berbisik: "Kau tahu, Kakang Darmo menyalahkanmu, bilang kau tak mau menolong padahal kau mampu."
Kemudian ke Pak Budi: "Mas Joko dan Kakang Darmo sama-sama mengeluh, bilang kau pelit tak mau menyumbang untuk mereka."
Benih keraguan tumbuh menjadi permusuhan. Saat Pak Joko tertimpa musibah gagal panen, Pak Tono malah menambal luka dengan garam:
"Sudah kubilang tanah itu tak bagus, kau keras kepala! Sekarang menderitalah, jangan menoleh kami."
Begitu pula saat keluarga Pak Budi sakit, bukannya memberi semangat, Pak Tono malah menyudutkan:
"Mungkin ada yang salah dari sisi kalian, atau janji yang tak ditepati. Bukankah dulu kalian tak pernah mau berbagi dengan kami?"
Padahal semua itu tak benar — dulu saat mereka mampu, mereka sering menolong Pak Tono tanpa pamrih. Namun kata-kata manis yang berubah menjadi tuduhan tajam itu lebih dipercaya, karena datang dari mulut saudara sendiri.
Mereka saling curiga, saling tuduh, hingga tak ada yang mau mengulurkan tangan saat saudaranya sedang terpuruk. Rumah leluhur yang dulu penuh tawa kini sunyi, seakan tak pernah ada persaudaraan di sana.
Hingga suatu hari, tetua kampung mengumpulkan mereka. Ia berkata dengan suara berat namun tenang:
Musibah datang untuk menguji kesetiaan, bukan untuk dijadikan alasan saling menyalahkan. Saudara yang sejati terlihat bukan saat makan bersama, melainkan saat salah satu sedang jatuh. Jika di saat sulit malah ditambah beban tuduhan, itu bukan saudara — itu orang yang menunggu harta habis baru pergi.
Mendengar itu, ketiga kakaknya terdiam. Mereka perlahan menyadari: semua kebencian yang tumbuh di antara mereka berasal dari satu sumber. Pak Tono menunduk, tak sanggup menatap siapa pun. Ia tahu, harta yang pernah ia ambil habis, tapi kepercayaan yang ia hancurkan tak bisa dibeli kembali dengan apa pun.
Sejak hari itu, Pak Tono sadar ia telah salah jalan. Ia mulai berusaha memperbaiki diri — bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan perbuatan tulus, perlahan menyusun kembali persaudaraan yang hampir runtuh karena ulahnya sendiri.

No comments:
Post a Comment