Jendela Emas di Balik Pagar Tinggi
Di balik deretan rumah
berdinding papan, jalanan berlumpur, dan selokan yang kerap meluap, berdiri
pagar tinggi berwarna abu-abu. Warga menyebutnya "Kota Kecil di Dalam
Tembok".
Tak ada yang tahu
persis kapan bangunan-bangunan itu mulai tumbuh di sana. Awalnya hanya gedung
tua yang terbengkalai. Lalu, muncul bangunan-bangunan baru: rapi, berlantai marmer mengkilap, lengkap dengan ruang tamu luas, dapur bersih, kamar mandi
bergranit, bahkan peralatan olahraga dan tempat parkir luas. Bagian dalamnya
seperti apartemen berbintang — nyaman, sejuk, jauh dari bising dan debu yang
menguasai lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, di luar
pagar, hujan masih mengubah jalan menjadi lumpur. Anak-anak masih bermain di
tepi selokan yang airnya keruh. Listrik kadang padam berjam-jam.
"Siapa yang
menempati rumah-rumah itu?" tanya warga berbisik. Katanya, bukan mereka
yang tinggal di gubuk-gubuk itu. Bukan pula mereka yang setiap hari berjuang mencari
nafkah di jalanan yang rusak.
Suatu hari, sekelompok
orang datang memeriksa. Mereka mendapati pintu-pintu yang tertutup rapat,
perlengkapan lengkap yang tak layak untuk sekadar "tempat istirahat",
bahkan kemewahan yang tak terbayangkan oleh warga di luar.
Ketika kebenaran
tersibak, satu pertanyaan menggema di mana-mana:
"Mengapa
kenyamanan setinggi ini hanya ada di balik tembok, sementara di luarnya masih
banyak yang belum punya tempat kering untuk berteduh?"
Bangunan itu akhirnya
diketahui bukan milik warga yang membutuhkan, melainkan kemewahan yang
dinikmati segelintir orang — di tempat yang seharusnya sama-sama diperbaiki.
Hingga kini, pagar itu
masih berdiri. Dan di baliknya, ada pelajaran pahit: kemewahan yang tak merata
di tengah kesulitan bukanlah kemajuan — itu adalah luka yang makin melebar.
No comments:
Post a Comment