Pengikut

SELAMAT DATANG

sambil ngopi cooooyyyyyy ! hehe

HAL TENTANG KEGIATAN EKSTRAKURIKULER Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Pasal 3, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi ini kemudian diperkuat dengan tujuan pendidikan pendidikan nasional yakni untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Menurut hasil penelitian di bidang neorologi, ternyata 50% perkembangan kapasitas intelektual anak sudah selesai pada usia empat tahun pertama, dan mencapai 80 persen pada usia delapan tahun (Bahar, 2007). Hal ini berarti, penyiapan mutu pendidikan yang prima dan penyiapan generasi penerus yang tangguh hanya akan dicapai jika anak sejak usia dini sudah mendapatkan stimulasi pendidikan yang tepat. Oleh karena itu, sekolah tidak hanya memberikan stimuli dalam aktivitas kurikuler yang sudah digariskan dalam kurikulum saja, tetapi juga menyediakan ladang yang subur di luar kurikuler dalam bentuk aktivitas ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/ madrasah (Depdiknas, 2006:13). Kegiatan ekstrakurikuler merupakan proses yang sistematis dan sadar dalam membudayakan peserta didik agar memiliki kedewasaan sebagai bekal kehidupannya. kegiatan ekstrakurikuler memberikan ruang yang tepat kepada peserta didik untuk mempraktikkan secara langsung (learning by doing) berbagai aktivitas yang dapat diarahkan pada upaya pembentukan karakter tertentu. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti dan dilaksanakan oleh siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah, bertujuan agar siswa dapat memperkayadan memperluas diri. Memperluas diri ini dapat dilakukan dengan memperluas wawasan pengetahuan dan mendorong pembinaan sikap dan nilai-nilai. Program Kegiatan Ekstrakurikuler: a. Jenis kegiatan, pilih salah satu jenis kegiatan ekstra kurikuler yang akan diselenggarakan: Kepramukaan, LDKS, PMR, Paskibra, KIR, Lomba/keberbakatan/pretasi olahraga (bulu tangkis, futsal, bola voley, atletik), seni dan budaya (kerawitan, musik, dll), teater, cinta alam, jurnalistik, keagamaan, seminar, lokakarya. b. Waktu kegiatan, sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud. c. Sasaran, peserta didik yang dikenai kegiatan ekstra kurikuler dapat berasal dari satu atau dari sejumlah sekolah/madrasah d. Rangkaian kegiatan, rangkaian kegiatan disesuaikan karakteristik jenis kegiatan kurikuler e. Tempat kegiatan, sekolah/madrasah sendiri, dan atau sekolah/ madrasah yang menyelenggarakan kegiatan yang sama, dan atau tempat lain. f. Peralatan yang digunakan, sesuai dengan karakteristik jenis kegiatan. g. Pelaksana, pelaksana utama dan pihak-pihak lain yang terlibat. h. Pengorganisasian kegiatan, sesuai dengan karakteristik jenis kegiatan ekstra kurikuler. Jika diperlukan dapat dibentuk kepanitiaan tersendiri. i. Anggaran, yakni anggaran yang diperlukan dalam kegiatan yang disusun. Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di tingkat satuan pendidikan, antara lain: a. Peserta didik harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler wajib (kecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkannya untuk kegiatan ekstrakurikuler tersebut), dan dapat mengikuti suatu kegiatan ekstrakurikuler pilihan baik yang terkait maupun yang tidak terkait dengan suatu mata pelAjaran di satuan pendidikan tempatnya belajar. b. Penjadwalan waktu kegiatan ekstrakurikuler sudah dirancang pada awal tahun atau semester dan di bawah bimbingan kepala sekolah dan peserta didik, dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak menghambat pelaksanaan kegiatan kurikuler atau menyebabkan gangguan bagi peserta didik dalam mengikuti kegiatan kurikuler. c. Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan di luar jam pelajaran kurikuler yang terencana, dan dapat dilakukan setiap hari atau waktu tertentu (blok waktu). d. Khusus kegiatan kepramukaan yang dilakukan di luar jam sekolah atau terkait dengan berbagai satuan pendidikan lainnya, seperti Jambore Pramuka ditentukan oleh pengelola/Pembina Kepramukaan dan diatur agar tidak bersamaan dengan waktu belajar kurikuler rutin. Dalam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar, setidaknya memuat tentang: Nama Kegiatan: sesuai dengan program kerja yang telah disusun. Penyiapan perlengkapan dan peralatan: sesuai dengan tahap-tahap kegiatan. Penyiapan pelaksana kegiatan. Kegiatan awal. Menyiapkan peserta untuk dapat melaksanakan kegiatan inti. Kegiatan inti. Sesuai dengan substansi untuk mencapai tujuan kegiatan. Kegiatan akhir. Penilaian. Penilaian terhadap hasil dan proses penyelenggaraan tahap- tahap pelaksanaan kegiatan. Menyusun Laporan Kegiatan Ekstrakurikuler Setelah kegiatan dilaksanakan, berikutnya perlu disusun laporan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar, setidaknya memuat tentang: a. Nama Kegiatan b. Waktu kegiatan c. Sasaran kegiatan d. Tahap-tahap kegiatan e. Hasil Penilaian f. Faktor Penunjang dan Penghambat g. Rekomendasi/Tindak Lanjut Monitoring dan Penilaian Kegiatan Ekstrakurikuler Sebelum melaksanakan monitoring dan evaluasi kegiatan kstrakurikuler tahapan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: a. Menyusun rancangan evaluasi. b. Menyiapkan informasi dari berbagai sumber berkaitan dengan perencanaan dan implementasi program. c. Menganalisis berbagai aspek yang berkaitan dengan keberhasilan dan kegagalan dalam pencapaian program. d. Rekomendasi yang berbeda-beda sesuai waktu evaluasi dilaksanakan. Dalam melakukan penilaian kegiatan esktrakurikuler dapat dilakukan penilain baik tentang sikap maupun keterampilan. Untuk penilaian sikap dapat mengacu pada komptensi sikap pada jenjang sekolah dasar meliputi perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri. Sementara itu untuk penilaian keterampilan bergantung pada karakteristik kegiatan ekstrakurikuler. Seperti kegiatan ektrakurikuler bulu tangkis dalam hal tertentu sudah barang tentu berbeda dengan kegiatan drama dan pramuka.

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Rabu, 11 April 2018 0 komentar

Keterkaitan Supervisi dengan Karakteristik Perilaku Guru.
Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Berdasarkan cara pengawas sekolah bersama guru melakukan perbaikan dan siapa yang mempunyai peran yang lebih dominan di antara keduanya, maka dibedakan tiga macam pendekatan, yaitu direktif, kolaboratif dan non-direktif. 1. Pendekatan Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada pengawas sekolah. 2. Pendekatan Kolaboratif: Tanggung Jawab terbagi relatif sama antara pengawas dan guru. 3. Pendekatan Non-Direktif: Tanggung jawab lebih banyak pada guru. Ketepatan penggunaan pendekatan dalam melaksanakan supervisi akademik sangat tergantung pada kemampuan pengawas mengenal karakteristik perilaku guru. Dalam hal ini, pengawas harus dapat menghargai perbedaan karakteristik perilaku guru dan tetap dapat bersifat adil dalam pembinaan dan pelaksanaan supervisi. Keterkaitan supervisi dengan karakteristik guru dilakukan dengan menggunakan variabel pengembangan, yaitu: tingkat kompetensi/berpikir abstrak dengan tingkat komitmen guru dalam melaksanakan tugas. Melalui penggunaan variabel pengembangan itu pengawas sekolah dapat mengadakan klasifikasi guru-guru yang ada. Pengukuran dapat dilaksanakan dengan menggunakan sebuah paradigma/model dengan menggambarkan persilangan dua garis, yaitu garis tingkat kompetensi/berpikir abstrak secara vertikal, yang bergerak dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi, dan garis komitmen yang secara horisontal bergerak dari tingkat rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Atas dasar itu maka dapat dikategorikan empat sisi (kuadran) dan empat prototipe guru: a. Kuadran I (Guru Professional) Guru yang profesional memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang tinggi dan tingkat komitmen yang tinggi. Ia benar-benar profesional melalui peningkatan kemampuan yang terus menerus. Orang yang profesional selalu punya kemampuan untuk mengembangkan dirinya terus menerus. Ia tidak hanya mampu mencetuskan ideide, aktivitas maupun sarana penunjang tetapi ia juga terlihat secara aktif dalam melaksanakan suatu rencana sampai selesai. Ia adalah seorang pemikir dan sekaligus pelaksana. b. Kuadran II (Guru Analytical Observer) Guru Analytical Observer memiliki tingkat kompetensi/abstraksi tinggi tetapi tingkat komitmen rendah. Ia pandai, sangat suka mengkritik, mempunyai kemampuan bicara yang tinggi, selalu mencetuskan ide-ide yang besar tentang apa yang bisa dikerjakan di kelas atau secara keseluruhan di sekolah. Ia bisa mengajukan ide atau rencana-rencana besar secara gamblang dan memikirkan langkah-langkah pelaksanaannya demi tercapainya program itu. Ide-idenya tak pernah/jarang terwujud. Ia tahu apa yang harus ia kerjakan tetapi tidak bersedia mengorbankan waktu, energi dan perhatian khusus untuk melaksanakannya. c. Kuadran III (Guru Drop-Out) Guru Drop-Out mempunyai tingkat kompetensi/abstraksi dan tingkat komitmen yang rendah. Ia termasuk guru yang kurang bermutu. Guru seperti ini memiliki beberapa ciri-ciri, yaitu: hanya melakukan tugas rutin tanpa tanggung jawab, perhatiannya hanya sekedar untuk mempertahankan pekerjaannya, memiliki sedikit sekali inovasi untuk memikirkan perubahan apa yang perlu dibuat dan puas dengan melakukan tugas rutin yang dilakukan dari hari kehari. d. Kuadran IV (Guru Unfocused Worker) Guru Unfocused Worker memiliki tingkat kompetensi/abstraksi yang rendah, tetapi tingkat komitmennya tinggi. Ia terlalu sibuk, sangat energik, antusias dan penuh kemauan. Ia berkeinginan untuk menjadi guru yang lebih baik dan membuat situasi kelas lebih menarik sesuai dengan keadaan peserta didiknya. Ia bekerja sangat keras dan biasanya meninggalkan sekolah penuh dengan pekerjaan yang akan dibuat di rumah. Sayangnya tujuan-tujuan yang baik tersebut terhalang oleh kurangnya kemampuan untuk menyelesaikan persoalan dan jarang sekali melaksanakan segala sesuatu secara realistis. Kategori guru sesuai dengan karakteristiknya ditunjukan pada gambar di bawah ini. *) dari berbagai sumber.

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 01 April 2018 0 komentar

Bimbingan Psiko-Edukatif
Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Untuk meningkatkan kemampuan guru kelas dalam melaksanakan bimbingan psiko-edukatif yang program utamanya melakukan upaya pencegahan, guru kelas perlu memahami prinsip dasar bimbingan psiko-edukatif yaitu: 1. Bidang Layanan Bimbingan Psiko-Edukatif a. Bimbingan pribadi Suatu proses pemberian bantuan dari guru kepada peserta didik untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal. b. Bimbingan sosial Suatu proses pemberian bantuan dari guru kepada peserta didik untuk memahami lingkungannya dan dapat melakukan interaksi sosial secara positif, terampil berinteraksi sosial, mampu mengatasi masalah-masalah sosial yang dialaminya, mampu menyesuaikan diri, dan memiliki keserasian hubungan dengan lingkungan sosialnya. c. Bimbingan belajar Proses pemberian dari guru kelas kepada peserta didik dalam mengenali potensi diri untuk belajar, memiliki sikap dan keterampilan belajar, terampil merencanakan pendidikan, memiliki kesiapan menghadapi ujian, memiliki kebiasaan belajar teratur dan mencapai hasil belajar secara optimal. 2. Kegiatan Layanan Bimbingan Psiko-Edukatif Layanan bimbingan psiko-edukatif diselenggarakan oleh guru kelas. Layanan bimbingan psiko-edukatif diselenggarakan di dalam kelas (bimbingan klasikal) dan di luar kelas. a. Layanan bimbingan psiko-edukatif di dalam kelas • Merupakan layanan yang dilaksanakan dalam seting kelas, diberikan kepada semua peserta didik, dalam bentuk tatap muka yang terintegrasi dalam pembelajaran. • Materi layanan bimbingan klasikal meliputi tiga bidang layanan bimbingan psiko-edukatif diberikan secara proporsional sesuai kebutuhan peserta didik yang meliputi aspek perkembangan pribadi, sosial, dan belajar. • Materi layanan bimbingan klasikal disusun dalam bentuk rencana pelaksanaan layanan bimbingan klasikal. b. Layanan bimbingan psiko-edukatif di luar kelas. • Bimbingan individual Dilakukan secara perseorangan untuk membantu peserta didik yang sedang mengalami masalah. Pelaksanaannya dengan mengidentifikasi masalah,penyebab masalah, menemukan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan terbaik. • Bimbingan kelompok Merupakan kegiatan pemberian bantuan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil terdiri atas dua sampai sepuluh orang untuk maksud pencegahan masalah, pemeliharaan nilai-nilai, atau pengembangan keterampilan-keterampilan hidup yang dibutuhkan. • Bimbingan kelas besar atau lintas kelas Merupakan kegiatan yang bersifat pencegahan, pengembangan yang bertujuan memberikan pengalaman, wawasan, serta pemahaman yang menjadi kebutuhan peserta didik, baik dalam bidang pribadi, sosial, dan belajar. • Konsultasi Merupakan kegiatan berbagi pemahaman dan kepedulian antara guru guru kelas, orang tua, pimpinan satuan pendidikan, atau pihak lain yang relevan dalam upaya membangun kesamaan persepsi dan memperoleh dukungan yang diharapkan dalam memperlancar pelaksanaan program layanan bimbingan psiko-edukatif. • Konferensi kasus Merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh guru kelas untuk membahas permasalahan peserta didik dengan melibatkan pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi penyelesaian masalah peserta didik. • Kunjungan rumah Merupakan kegiatan mengunjungi tempat tinggal orangtua/wali peserta didik/ dalam rangka klarifikasi, pengumpulan data, konsultasi dan kolaborasi untuk penyelesaian masalah peserta didik. • Alih tangan kasus Merupakan pelimpahan penanganan masalah peserta didik yang membutuhkan keahlian di luar kewenangan guru kelas. Alih tangan kasus dilakukan dengan menuliskan masalah peserta didik dan intervensi yang telah dilakukan, serta dugaan masalah yang relevan dengan keahlian profesional yang melakukan alih tangan kasus. • Advokasi Adalah layanan bimbingan psiko-edukatif yang dimaksudkan untuk memberi pendampingan peserta didik yang mengalami perlakuan tidak mendidik, diskriminatif, malpraktik, kekerasan, pelecehan, dan tindak kriminal. • Kolaborasi Adalah kegiatan dimana guru kelas bekerja sama dengan berbagai pihak atas dasar prinsip kesetaraan, saling pengertian, saling menghargai dan saling mendukung. • Pengelolaan media informasi Merupakan kegiatan penyampaian informasi yang ditujukan untuk membuka dan memperluas wawasan peserta didik yang diberikan secara tidak langsung melalui media cetak atau elektronik (seperti website, buku, brosur, leaflet, papan bimbingan). • Pengelolaan kotak masalah Merupakan kegiatan penjaringan masalah dan pemberian umpan balik terhadap peserta didik yang memasukan surat masalah ke dalam sebuah kotak. 3. Mekanisme Pengelolaan Layanan Bimbingan Psiko-Edukatif Bimbingan psiko-edukatif dilaksanakan oleh guru kelas dengan pengarahan oleh kepala sekolah dan dipantau oleh pengawas sekolah sesuai dengan mekanisme pengelolaan layanan bimbingan psiko-edukatif. Mekanisme pengelolaan bimbingan tersebut meliputi: a. Analisis kebutuhan b. Perencanaan c. Pelaksanaan Layanan d. Evaluasi e. Pelaporan f. Tindak Lanjut Tindak lanjut atas laporan program dan pelaksanaan bimbingan psiko-edukatif akan menjadi alat penting dalam tindak lanjut untuk mendukung program sejalan dengan yang direncanakan, mendukung setiap peserta didik yang dilayani, mendukung digunakannya materi yang tepat, mendokumentasi proses, persepsi, dan hasil program secara rinci, mendokumentasi dampak jangka pendek, menengah dan jangka panjang, atas analisis keefektifan program digunakan untuk mengambil keputusan apakah program dilanjutkan, direvisi, atau dihentikan.

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. 0 komentar

SEKILAS TENTANG SUPERVISI MANAJERIAL Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Segala aktivitas supervisi yang dilakukan oleh seorang pengawas tiada lain semata hanya menuju pada peningkatan mutu pendidikan secara umum, dan sekolah serta pembelajaran secara khusus. Secara spesifik supervisi yang ditujukan bagi peningkatan mutu sekolah dari segi pengelolaan disebut dengan supervisi manajerial. Hal ini tentu tidak kalah penting dibandingkan dengan supervisi akademik yang sasarannya adalah guru dan pembelajaran. Tanpa pengelolaan sekolah yang baik, tentu tidak akan tercipta iklim yang memungkinkan guru bekerja dengan baik. Supervisi manajerial menitikberatkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran. Dalam melaksanakan fungsi supervisi manajerial, pengawas sekolah berperan sebagai: (1) kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam mengidentifikasi kelemahan dan menganalisis potensi sekolah, (3) pusat informasi pengembangan mutu sekolah, dan (4) evaluator terhadap pemaknaan hasil pengawasan. Prinsip-prinsip supervisi manajerial pada hakikatnya tidak berbeda dengan supervisi akademik, yaitu: a. Prinsip yang pertama dan utama dalam supervisi adalah pengawas harus menjauhkan diri dari sifat otoriter, di mana ia bertindak sebagai atasan dan kepala sekolah/guru sebagai bawahan. b. Supervisi harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis. Hubungan kemanusiaan yang harus diciptakan harus bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal (Dodd, 1972). c. Supervisi harus dilakukan secara berkesinambungan. Supervisi bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada kesempatan (Alfonso dkk., 1981 dan Weingartner, 1973). d. Supervisi harus demokratis. Supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi. Titik tekan supervisi yang demokratis adalah aktif dan kooperatif. e. Program supervisi harus integral. . Di dalam setiap organisasi pendidikan terdapat bermacam-macam sistem perilaku dengan tujuan sama, yaitu tujuan pendidikan (Alfonso, dkk., 1981). f. Supervisi harus komprehensif. Program supervisi harus mencakup keseluruhan aspek, karena hakikatnya suatu aspek pasti terkait dengan aspek lainnya. g. Supervisi harus konstruktif. Supervisi bukanlah sekali-kali untuk mencari kesalahan-kesalahan guru. h. Supervisi harus obyektif. Dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi, keberhasilan program supervisi harus obyektif. Obyektivitas dalam penyusunan program berarti bahwa program supervisi itu harus disusun berdasarkan persoalan dan kebutuhan nyata yang dihadapi sekolah. Dalam hal prinsip-prinsip supervisi manajerial relatif sama dengan supervisi akademik, namun ternyata dalam metode terdapat perbedaan. Metode metode yang dapat dipergunakan dalam supervisi manajerial adalah: monitoring dan evaluasi, refleksi dan FGD, metode Delphi, dan Workshop. Monitoring dan Evaluasi Monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauhmana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah atau sejauhmana keber- hasilan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu.. Diskusi Kelompok Terfokus (Focused Group Discussion) Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, komite sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini dapat berbentuk Focused Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur stakeholder sekolah. Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan sekolah. Metode Delphi Metode Delphi dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi, misi dan tujuannya. Sesuai dengan konsep MBS. Dalam merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari kondisi sekolah, peserta didik, potensi daerah, serta pandangan seluruh stakeholder. Workshop Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas dalam melakukan supervisi manajerial. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Pengawas Sekolah atau organisasi sejenis lainnya. Dalam pelaksanaan supervisi manajerial, pengawas dapat menerapkan teknik supervisi individual dan kelompok. Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada kepala sekolah atau personil lainnya yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Kepala-kepala sekolah yang diduga, sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. ---

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 10 Desember 2017 0 komentar

Carpon : Uju Gunawan NU NGAROJER WANCI JANARI Peuting mimiti simpe tina kagiatan-kagiatan kahirupan biasa, panto imah tatangga katingali geus narutup kalayan lampu geus mimiti pus pes diparareuman. Nya pantes we da wanci geus leuwih ti tabuh 11 peuting kalayan kaayaan di lembur pasisian ngan saukur kaliliwatan ku jalan desa, aya oge motor atawa kandaraan sejena ngaliwat cacarangan malahmah kerep keneh seahna angin nu ngahiliwir meupeuskeun jemplingna peting. Beda deui jeung kagiatan dina frekuensi tambah peuting tambah muwuh nu marakena, malum harita teh keur usum-usumna “ngarojer” kira-kira taun 1995 – 1998 marake gelombang FM bagian handap. Alatna kawilang saderhana bisa dijieun dilembur sabab ngan saukur alat pemancar radio tapi ieu mah dipakena pikeun ngobrol wungkul, lumayan jangkauananamah kawilang jauh bisa nembus puluhan kilometer malah sigana bisa ratusan komo lamun dipancarkeun ti daerah luhur norobos tepung jeung daerah luhur deui. Kabeneran lembur singkur kuring teh ayana dina palataran luhur katelahna Desa Karanganyar jadi pikeun mancarkeun sinyalmah kaasup hade. Sabenerna ti wanci sabada isa keneh kuring geus uplek ngobrol jeung tatangga anu jarakna paling kana tilu kilometeran ti imah. Nelahna Kang Age ari di frekuensimah da ari ngaran sapopoenamah Agus malah ayeunamah tos jeneng janten Bapa Rurah. Bahan anu diobrolkeun biasa we dongeng sapopoe, lolobanamah ngobrolkeun kumaha kualitas sora katampana, kitu jeung kitu terus bari hayoh di uprak-oprek pesawatna. “ Break join kadangu teu nu abdi Kang Age ?” Kitu minangka kecap-kecap bubuka mimiti nyambung di frekuensi. “ Mangga-mangga ka kuping Kang Galuh, cek modulasi kumaha nu abdi katampina kapalih dinya ?” sora kang Age anu dipirig ku musik lalaunan kalayan nu ngawihna Nining Meida. “ Di kopi, sae-sae kualitas bas trible seimbang, vokal bening, sinyal kuat report balik nu abdi kumaha dugina kapalih dinya kitu rojer ganti “, kitu jeung kitu topik pembiacaraan teh katambahan ku wangkongan naon bae nu kadupak tanpa aya rencana jeung persiapan ngabuluyur sakaparan-paran pareng lamun manggih pikaseurieun ngehkeh nepi ka rambay cimata. Uplekna ngobrol teh sok sanajan aya digelombang handap sakapeungmah sok loba nu ngabandungan tina radio, atuh isuk-isuk teh sok guyur komo lamun bahan nu diobrolkeun rada-rada aheng. Kalemahanana kusabab frekuensina sakapeng galasar-gulusur kaluhur kahandap kadang-kadang ngadupak gelombang TV atuh siaran anu keur dilalajoan jadi rumek, ririakan sakapengmah bijil sora anu keur ngarojer. Pantes we lamun nu keur lalajo TV murukusunuh. Alatan eta biasana ngarojer teh sok kapeutingnakeun malah kajanarinakeun lamun rek ngobrol jeung nu jarauhmah da sakadar ngobrol jeung tatanggamah lokalan istilahna bisa bae sinyalna dileutikan. Basa keur uplek ngobrol jeung kang Age diantara spasi aya kadenge anu rek asup. “ Break join Kang Galuh, manawi kadangu nu abdi ti palihan Jelegong kitu ganti” hiji sora nu tos rada kenal di frekuensi kadenge ngagentraan hawar-hawar. “ Tah aya nu break join “ ceuk kuring ka kang Age “ Mana can ka kuping kadieumah, cobian tampi heula atuh “ Ceuk kang Age bari semu rada aneh sabab teu aya teu kamonitor kana radiona. “ Iya kang Age ka kuping aya nu break join ke urang tampi heula nya manawi ki sobat ti palih mana yeuh” “ Enya-enya sok didieu ongkoh rada tiris paingan tos jam 12.30 bade ngadameul kopi heula sambil stand by kitu rojer”, ceuk kang Age mere kasempetan pikeun narima rekan nu cikeneh ngageroan. “ Muhun atuh mangga bade ngopi heula mah tapi kade katiduran abdi bade nampi rekan heula, mana anu join nembe silahkan masuk ganti” “ Rojer dimonitor hatur nuhun Kang Galuh, cek modulasi kumaha ayeuna katampina kapalih dinya “, kitu sora anu muncul hawar-hawar “ Dimonitor mung sinyalna alit teu acan pas, ke.. ke dupi ieu sareng saha? ti palih mana? mohon informasinya kitu ganti” “ Di ganti, sok ieu sambil dilelempeng, abdi Acil ti palihan Jelegong anu sempet ketemu di udara tiga malam yang lalu sama kang Galuh piraku tos hilap kitu rojer ganti “ “ Oh muhun-muhun kang Acil ti palihan Jelegong, lokalan sareng Kang Ahoy nya … tos bagus ayeunamah.. tadimah Kang acil beberapa kace di bawah saya jadi teu ngepas, kamana Kang ahoynya sekarang, report balik kumaha nu abdi kitu rojer ganti “ “ Di ganti kembali, numawi nuju teu aya rencang lokalan ieu teh, kakuping aya kang Galuh nyobian lebet nembeteh sementara sinyal sareng modulasi ti palih dinya bagus langkung sae batan tiga malam yang lalu, iraha kang Galuh bade amengan ka palihan jelegong kitu ganti” “ Di monitor nuhun atuh upami langkung saemah, muhun aya maksad amengan ka palih dinya teh sakantenan jalan-jalan kumaha perkawis jalana ayeuna ka Jelegong, sareng kumaha ceritana digentos radiona kitu, wireh nu abdi tiasa katangkep langkung sae, ganti “ tembal teh bari enya ongkoh geus sababaraha waktu aya niat jalan-jalan ka pakidulan anu ceuk beja situasina wararaas. “ Muhun atuh diantos, perkawis jalan sakinten sae, upami ka abdi kantun naroskeun ka warung nu caket lapang tangtos aruniangaeun cuang ngaraliwet sakantenan sareng lokalan ti palih dinya, perkawis katampi langkung sae mungkin wireh abdi ngalih posisi ayeunamah janten ka pasir kitu ganti” Kitu tembal ti beulah peuntas mani eces jentre malah sorana oge mani ngoncrang ongkoh deui latarna mani asa jempling beda jeung ari ti kang Age anu latarna aya Nining Meida sakapeng sora toke harianeun matuh ari sora jam dindingmah anu ting beletrak. Ngobrol teh anteng ngaler ngidul sakumaha biasa cumarita difrekwensi nu tara pati puguh topikna, ngan nu teu poho teh diantarana tungtungna kalimat waktu amprok di udara harita. “ Kang Acil dipalihan Jelegong, hatur nuhun kana panghayapna, Insya Allah dinten Minggu rupina abdi bade kadinya sareng kang Age hoyong tepang sareng kang Acil oge lokalan palih dinya, oge mamanawian gaduh antene nu sae bade ngagentosan he he kitu ganti” heureuy maksudteh etamah tapi ongkoh biasa ketang saling pasihan alat seputar perlengkapan pesawatmah, naon we nu rada aheng biasa sok silih tukeran dina raraga ningkatkeun daya pancar. “ Aya-aya antenemah mangga tiasa dicandak kaleresan nu abdimah nganggo antene handap oge bubuhan di pasir pisan masih keneh tebih jangkauanana, omat diantos sing dugi kadieu teu kenging mung jalan-jalan ngalangkung wungkul, kanggo sementawis abdi bade lungsur tina frekuensi salam ka sadayana, hapunten nu kasuhun tujuh tiga dauble delapan cerio “ Ceeeees sora frekuensi kosong mani asa seah. Teu kaburu dibales kekecapanateh ongkoh cenah langsung cerio ieuh. Ngareret kana Jam dinding tos tabuh satengah dua berarti aya kana sajamna bieu ngobrol jeung nu ngarana Acil, ras inget ka Kang Age boa-boa katiduran yeuh umat “ Kang Age, Kang age aya keneh difrekuensi ?” ngahaja volume dibadagkeun sangkan bedas bisa ngagudagkeun saupama kang Age nundutan. “ Aya-aya “ pakulutrak sora kang Age anu semu-semu beurat ku tunduh. “ Yeh kamana bae stan by teu bieu ?” “ Aduh katiduran, atuda teu kamonitor lawan bicarana ngan uplek we sorangan Kang galuh wungkul" “ Ah piraku sakitu badagna kadieu ?” tanya teh, tapi da bisa bae ari urusan frekwensimah kadang sok aya kituna mungkin posisi Kang age teu merenah sareng posisi kang acil lawan bicara tadi. “ Yeuh Kang Age poe Minggu cuang ka Jelegong jalan-jalan nepungan lokalan Kang Acil bari ningali pesawat urang ditu kumaha, siap ?” tempas kuring deui da Kang Age teu ka kuping ngobrol nanaon siga nu anteng ngahuleng duka ngalenyap deui nuluykeun nu tadi. “ Ka Jelegong, hayu atuh kaleresan pas teu aya acara sampeur we kadieu nya “ “ Iya dagoan sa disampeurna rada-rada pasisiang “ Pondok carita harita geus poe minggu malah motor geus nyuruwuk maju ka kidulkeun nanjak kana tanjakan nu tarahal. Jalan aspal nu geus ruksak nambahan karasa beuratna tanjakan. Kira tabuh 10 jlog nepi ka lembur Jelegong nu dituju teh lapang maen bal bari rarat reret neangan warung. Breh aya warung sisi kidul warung basajan katingali nu dagangna keur ngeprukan bari ngelapan meja sigana tas aya nu ngopi da masih ngabarak geulas urut kopina. “ Bu punten bade tumaros dupi bumina Acil palihmana ?” “ Acil… acil mana nya ?” tukang warung kalah malik nanya “ Ari ngaran di daratna saha ?” Ceuk Kang Age ka Kuring “ Numawi duka saha hilap teu kataroskeun “ “ Ke..ke dupi kenalna dimana ? “ tempas si ibu warung “ Kenalnamah upami nuju nyarios dina radio, ngarojer… abdi nyariosteh tilu wengi kapengker malem Juma’ah “ “ Ke..ke kadieu caralik heula ujang !”,ceuk si Ibu warung semu reuwas “ Kumaha kitu ibu “ “ Ku ibu tos kataksir upami Acil etamah “ “ Hatur nuhun atuh ibu dupi bumina palih mana ?” Kuring panasaran “ Mung kieu masalahna, Acil anu dimaksad parantos pupus opat wengi kapengker, pas na malem Kemis muhun murangkalih eta teh sok ngarojer ampir unggal wengi malihanmah pupusna teh alatan kasetrum nuju ngarojer sareatnamah” Gebeg kuring ngagebeg kitu oge kang Age siganateh, komo lebah ngadenge maotna malem Kemis sedengken basa uplek ngobrol Malem Juma’ah. Masih untung keneh harita teh pabeuberang malahan tengah poe ereng-erengan jadi teu sieun-sieun teuing. “ Inalillahi wa ina ilaihi rojiun… Bu dupi bumina palih mana ?” ngahaja teu dipanjang-panjang obrolanteh bisi ngagareuwahkeun “ Tah bumi ibu ramanamah eta di pentaseun warung ieu, di kurebkeunamah itu di pasir dina pemakaman umum salembur “ Ceuk si Ibu warung ngajentrekeun. Sabada nganuhunkeun kuring jeung kang Age pamitan ka si Ibu Warung maksud teh rek nepungan kulawargana Acil tea, ngan diparengkeun kulawargana teh keur suwung anu aya teh tilu urang rumaja nuju caralik di teras, sabada kenalan tetela tinu tiluan teh aya kang Ahoy tea anu sarua sok ngarojer. Teu hese akrab da nu ngarana sobat di frekwensi saupama tepung di darat sok langsung pada loma eta oge kitu, ngan sabada ngalalakonkeun sakumaha tadi ka si Ibu warung sakabehna oge ting haruleng hareugeueun. “ Kang Galuh saleresna abdi di dieu oge ngariung nuju ngemutan hal nu aneh, marga lantarannana seperangkat pesawat ngarojer anu Acil kapendak tos teu araya, teu katawis ti kawitna kapendak soteh wireh abdi saparakanca lungak longok kana kamer tempat ngarojerna “ Kang Ahoy ngadadarkeun pangalamanana “ Baruk kitu, moal aya nu malingmah kang Ahoy “ Ceuk Kang Age nempas. Kuring oge sapamikiran sarta lamun digabung-gabung pantes lamun aya nu heureuy ngaku-ngaku Acil make pesawatna ladang maling sabab aya kalana kitu vokal bisa mirip lamun nganggo pesawat nu sami. “ Tiasa janten kitu oge, tos we lah ayeunamah teu kedah ngemutan eta mangga urang teraskeun wae ka rorompok abdi “, ceuk kang Ahoy ngajak ka kuring jeung kang Age. “ Hatur nuhun Kang Ahoy, mung ieu teh asa panasaran upami tiasa mah hoyong ningali makam Acil sakantenan ka palih dieu “, Ceuk kuring satengah ngajak ka sarerea. “ Kitu mangga da caket ieuh tuh palih tonggoh, hayu atuh cuang sasarengan “ Bral sarerea miang nanjak netek, ka hiji Pasir. Sabada sababaraha waktu jlog kanu datar bari dibarengan ku kesang nu ngagarajag breh aya gundukan taneuh beureum dihandapeun tangkal samoja nu kawilang jangkung. “ Tah ieu makam Acil teh Kang Galuh “, ceuk kang Ahoy nuduhkeun. Barang ngareret ka luhur samoja, gebeg reuwas luar biasa kuring tutunjuk nu sejen narempo kana lebah nu ditunjuk katempona sarua ngagebeg sabab di luhur samoja ngait antene pesawat sok sanajan rada sengkleh kaayaanana. Karanganyar, 26 November 2006

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Senin, 17 Juli 2017 0 komentar

Carpon : Uju Gunawan
Harita teh bada solat berjamaah isa, di masjid lingkungan RT.17 RW. 08 lumangsung riungan matuh unggal taun dina petengahan bulan Desember nyaeta ngaroriskeun masalah kas RT. Kuring salaku pengelola kas panjang lebar ngalaporkeun sagala hal nu pakuat pakait jeung perkara duit kas tea. Sabaraha pemasukan, sabaraha pengeluaran oge sabaraha kauntungan nu katampa ku tugu sewang-sewangan. Dina tungtung acara biasa sok dibagikeun mangrupa bingkisan Hasil Kas teu pira ngan saukur kueh, gula jeung kopi tapi najan kitu ari ku loba tugumah kadang nepi ka ngerepkeun waragad ampir kana dua jutaanmah. Eta kabiasaan teh can robah kitu jeung kitu geus ampir 5 taun ti saprak kuring katempuhan jadi pengelola kas RT. Kusabab kitu aya inisiatif kuring ngajukeun pertanyaan bisi diantara warga aya nu boga ide dina masalah bingkisan kas tea. Enya we basa hal eta ditepikeun langsung aya mangrupa usulan ti salah saurang warga. “ Ieu mah kasadayana bae, saupama ka saluyuan di RT urang cuang nyieun Katil, sabab unggal aya nu maot urang kudu nginjeum bae ka RT peuntas sedengken sakitu jauhna saleuheung dina waktu butuh pada neang ari waktu nganteurkeun pan aya antekna silih andeulkeun “ Ceuk Abah Sanip minangka RT manten anu sagala kaputusanana kadang disaluhureun kaputusan RT nu keur jeneng sarta sok diaranggap bae ku mayoritas warga. “ Aeh kuring oge satuju pisan, yeuh sarerea oge bakal merlukeun jeung hiji katangtuan bakal ngagunakeun malah ceuk kuringmah sangkan lamun aya nu maoteun teu kudu kokotetengan atawa ngadadak ngaruksak dipan sakalian nyieun katil teh jeung dipan paranti ngamandianana “ Ceuk Abah Sudin lanceuk Abah Sanip nyaeta salah saurang warga nu sok dipikolot ku salelembur. “ Hade pisan ieu usulan teh, kumaha yeuh kira-kira pendapat warga anu lian ?” Ceuk salah saurang warga anu ngora keneh anu singhoreng teh sora Pa RT anyar kakara dilantik 5 poe katukang. “ Ari kuringmah satuju pisan, malah saupama taun isukan teu menang bingkisan kas oge kajeun lamun waragadna dipake nyieun katil jeung dipanmah “ Ceuk salah saurang warga nu sok pirajeunan obrolananateh pikaseurien “ Satuju…satuju kuring ge “ Ceuk nu sejen pasusul-susul “ Tah lamun kitu tinggal kumaha kasanggup pengelola kas, naha sakira bisa kacumponan tina kas atawa perlu narik deui iuran ti warga “ Ceuk Pak RT nanya ka kuring “ Lah asana bakal kacumponan tina kas oge kajeun teuing teu dibere kopi oge isukanmah “ Si Emang nu sok pikaseurieun miheulaan nyarita da memang baku sok kitu “ Kira-kira sabarahaeun atuh waragadna pikeun nyieun katil jeung dipan teh ? “ Kuring nanya heula da bingung nyanggupanana ari can jelas sabara waragadnamah. “ Ayeuna kieu, samemeh ngitung waragad kuring aya usul lamun seug katarima kunu lian pikeun ngamandian mah samemeh nyieun nu jaman ayeuna sementara ku dipan dikuring aya anyar keneh teu kapake rek dipasrahkeun jadi barang ka RT an dina harti barang sarerea bisi perlu di cet tinggal meuli cet sakalengmah suganwe ngurangan saetik-eutikeun kana waragad “ Ceuk Abah Sudin kokolot lembur tea “ Alhamdulillah atuh tah dipanmah tos dianggap aya ayeuna tinggak katil cik Mang Aday pang goral-goralkeun sabarahaeun piduiteunana mun nyieun katil ku kai be nu gampang dilembur urang ? “ Ceuk Pa RT ka Mang Aday tukang ngebas nu aya di lingkungan RT.17 “ Kaina rek make kai naon kira-kira atawa cuang ngala ti makam kolot bae ?” Mang Aday malik nanya “ Lah kaimah cuang meuli bae kai jati jang pamanggulna atuh ari dadampraknamah keun bae ku tanggkal nangka oge “ Ceuk Abah Sanip nu mimiti usul perlu katil tea “ Atuh ceuk goral-goralmah anggarkeun wae Rp. 800.000,- mah pikeun sapuratina nepi ka jadi “ Ceuk Mang Aday “ Atuh ari sakitu mah gampang, ngan bisi kurangmah sok bae asal laporan heula ka pa RT, ku sakitumah moal pati ngurangan kana Bingkisan Kas taun hareup “ Ceuk kuring netelakeun. “ Tah ari kitu mah sarta sarea sapuk tinggal sok wae ku Mang Aday dipigawe kaina nyokot heula ka mang Karsa atuh da dibere ieuh ari tempo sabulan-bulan baemah komo ieu jang kaperluan sarerea “ Ceuk Pa RT “ Ke lamun sakirana kapake di kuring aya kai tinggal pilihan bae ku Mang Aday di saung tukangeun imah “ Ceuk Mang Dono salah saurang warga nu sok jual beuli kai tapi geus lila pindah pacabakan. “ Kumaha balitunganana Don ?” Abah Sudin nanya muguhkeun “ Lah pilihan be heula, moal ari di engkopkeun sadayanamah atuh sugan saparona-saparona sangkan rada ngurangan kana waragad “ Ceuk Mang Dono ngajentrekeun “ Tah kitu sok atuh tinggal atur-atur ku Mang Aday sarta ke mun geus beres tinggal ngalaporkeun waragadna ka pengelola Kas “ Ceuk Pa RT Mungkas babadamian. Kurang leuwih dua poe ti tas babadamian wanci bada subuh aya pengumuman yen aya saurang warga dilingkungan RT. 17 anu maot. Sakumaha biasa kagotong royongan di lembur sabada solat subuh oge langsung pada daratang maksud mulasara anu maot tea. Wanci nyerelek maju ka beurang sabada mayit geus dimandian, diboehan sarta disolatan tinggal dianteurkeun ka pakuburan kakara sarerea inget yen ari katil teh geus rapih acan di Mang Aday. Ngan sabot kitu tos torojol manten nu maranggul katil diantarana aya Mang Aday anu geuwat tamada ka Pa RT yen katil teh can rapih, ieumah biasa we nginjeum ti RT peuntas. “ Nya ari can rapih mah mahade kumaha, piraku aki Jahimi dihulag maot ayeunamah “ Ceuk si Mang nu beuki heureuy ngabodor dinu kapapatenan “ Puguh sugan teh moal aya nu maot rusuh-rusuh “ ceuk Mang Aday saruana “ Geus lah tong rame bisi layon ki Jahimi teu daekeun tumpak katil ieu ari apaleun nang nginjeummah “ Ceuk salah saurang warga nu titadi ngabandungan obrolan. “ Ari kitu tinggal kumaha ayeuna Katil nu keur dijieun teh, Mang Aday ?” Pa RT nanya ka Mang Aday “ Kantun dadamparna wungkul teu acan di sugu “ tembal mang Aday “ Enya atuh buru beresan bisi si Mang Eta rek rusuh make “ Ceuk Pa RT bari nunjuk ka si Mang Bodor “ Ih amit..amit “ si mang Bodor ngabirigidig Gancangna carita dua poe ti saprak aki Jahimi Maot katil anu dijieun ku Mang Aday teh tos rengse. Mang Aday tos laporan ka RT malah ari waragadnamah tos lunas dibayar ditalangan heula ku kuring. Ngan nu jadi pasualan eta katil teu daek aya nu neang. Kungsi aya beja rek disimpen di gigireun masjid RT tapi ajengan kurang satuju cenah bisi barudak sarieuneun ka masjid, atuh teu jadi. Aya oge beja cuang ditunda di astana siga di makam salelembur tapi masalahna can aya saungna atuh lamun ngahaja nyieun saung waragad deui sedengkeun urut nyieun katil ge pan lumayan. “ Dimana atuh, sugan disaung balong bae atuh anu kuring” , ceuk Pa RW mere alternatif “ Ulah didinya karunya ka Bi Ijah keur mah nyorangan di imahna “ Ceuk salah saurang warga nu apaleun yen saung balong Pa RW gigireun pisan imah Bi Ijah “ Ari diditu ulah didieu ulahmah geus we di gigireun imah kuring “ Ceuk saurang warga, singhoreng Abah Sanip anu mimiti ngusulkeun sangkan nyieun katil tea. “ Ke heula, da asa teu merenah ari ditunda digigireun imah-imah teuing mah” Ceuk Pa RT teu nyatujuan “ Ari geus rek dimana atuh piraku dianteup wae di imah Mang Aday “ ceuk nu lian “ Enya puguhanan pamajikan kuring geus ngutupluk bae majarkeun teh sieun ari kaluar rek abdas subuh, mani kudu dianteur wae siga baheula keur pangantenan “ ceuk mang Aday nembrakeun pangalamanana “ Ke dimana atuh nya ? “ Pa RT bingung Sarerea oge dina jero hate rada satuju di masjid siga disabagian RT batur, tapi lamun dipaksakeun sieun matak teu enak kaajeungan ke teu suhud ngawuruk barudak. Sarerea ngahuleng mikir dimana anu lewih merenah ieu panundaan katil tea. Saking ku karunya ka Mang Aday eta katil digarotong ka pipir imah Pa RT. Meunang sapeuting isukna kadenge hog hag salaki pamajikan ceunah nu kawarung sarieuneun sakalieun rek meuli obat nyamuk oge da kabeneran pa RT teh ngawarung. Atuh isukna katil digarotong deui ka imah Pa RW. Meunang sapoe sapeuting isukna sarua hog hag salaki pamajikan majarkeunteh kamari ibu-ibu Pos Yandu horeameun kumpul di imah Bu RW barudak balitana bisi kuma onam. Atuh rigidig deui katil digarotong ayeunamah nu ditujuna teh Pos Kamling, tapi ari isukna isuk-isuk Hansip laporan ka Pa RT yen peuting tadi teu aya nu ngaronda saurang-urang acan. Sarerea ngahuleng semu bingung ..... Nepi ka ayeuna mangsa carita ieu dipungkas eta katil can puguh padumukanana. Karanganyar, 12 Desember 2006

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Jumat, 17 Maret 2017 0 komentar

Pengembangan Diri Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah. Dalam program pengembngan diri, perencanaan dan pelaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari sekolah yaitu melalui hal-hal berikut. a. Kegiatan rutin sekolah Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini adalah upacara pada hari besar kenegaraan, pemeriksaan kebersihan badan (kuku, telinga, rambut, dan lain-lain) setiap hari Senin, beribadah bersama atau shalat bersama setiap dhuhur (bagi yang beragama Islam), berdoa waktu mulai dan selesai pelajaran, mengucap salam bila bertemu guru, tenaga kependidikan, atau teman. b. Kegiatan spontan Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat guru dan tenaga kependidikan yang lain mengetahui adanya perbuatan yang kurang baik dari peserta didik yang harus dikoreksi pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui adanya perilaku dan sikap yang kurang baik maka pada saat itu juga guru harus melakukan koreksi sehingga peserta didik tidak akan melakukan tindakan yang tidak baik itu. Contoh kegiatan itu: membuang sampah tidak pada tempatnya, berteriak-teriak sehingga mengganggu pihak lain, berkelahi, memalak, berlaku tidak sopan, mencuri, berpakaian tidak senonoh. Kegiatan spontan berlaku untuk perilaku dan sikap peserta didik yang tidak baik dan yang baik sehingga perlu dipuji, misalnya: memperoleh nilai tinggi, menolong orang lain, memperoleh prestasi dalam olah raga atau kesenian, berani menentang atau mengkoreksi perilaku teman yang tidak terpuji. c. Keteladanan Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan yang lain dalam memberikan contoh terhadap tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta didik untuk mencontohnya. Jika guru dan tenaga kependidikan yang lain menghendaki agar peserta didik berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa maka guru dan tenaga kependidikan yang lain adalah orang yang pertama dan utama memberikan contoh berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai itu. Misalnya, berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya, bekerja keras, bertutur kata sopan, kasih sayang, perhatian terhadap peserta didik, jujur, menjaga kebersihan. d. Pengkondisian Untuk mendukung keterlaksanaan pendidikan budaya dan karakter bangsa maka sekolah harus dikondisikan sebagai pendukung kegiatan itu. Sekolah harus mencerminkan kehidupan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang diinginkan. Misalnya, toilet yang selalu bersih, bak sampah ada di berbagai tempat dan selalu dibersihkan, sekolah terlihat rapi dan alat belajar ditempatkan teratur. Hal-hal tersebut harus secara bersama-sama dibiasakan dan ditumbuhkan oleh segenap warga sekolah. Jangan merasa bosan dan terus saling mengingatkan, saling menguatkan antar sesama guru, guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Hindari atau setidaknya minimalisir sikap atau tindakan yang justru bertolak belakang dengan budaya dan karakter bangsa yang sedang kita kembangkan. Dengan kebersamaan dan komitmen yang tinggi semua yang kita impikan dan harapkan mudah-mudahan menjadi kenyataan.

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. 0 komentar

SENANTIASA BERUPAYA TUMBUHKAN MOTIF BERPRESTASI Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Motif berprestasi adalah suatu bentuk yang lebih spesifik dari motivasi instrinsik. Untuk membicarakan motif berprestasi kita tidak bisa memisahkan diri dari pengertian motivasi secara keseluruhan. Maslow (dalam Fred Luthasns, 1995:141) mengemukakan teori motivasi yang dikenal dengan Humanistiie theory. Maslow mengemukakan “ suatu hirarki kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan affiliasi, atau akseptnasi, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan perwujudan diri. Mc Cleland (Hasibuan, 2005:124) berpendapat bahwa setiap orang memiliki tiga jenis kebutuhan dasar, yaitu : (1) kebutuhan akan kekuasaaan (2) kebutuhan untuk beraffiliasi, (3) kebutuhan berprestasi. Kebutuhan akan kekuasaan dalam keinginan mempengaruhi orang lain. Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan diahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. James, AF. Stoner, dan Charles Winkel (1989:94) menyatakan : “Orang yang mempunyai motif berprestasi memiliki beberapa karakteristik khusus yang sangat unik, yaitu (1) mereka ingin mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pekerjaan dan tugas, (2) mereka cenderung menentukan tujuan sendiri dan mengambil resiko yang telah diperhitungkan untuk mencapai tujuan, (3) mereka sangat mementingkan umpan balik mengenai seberapa baik melakukan sesuatu. Travers (Siagian, 2004:123) lebih menitik beratkan kepada masalah kondisi. “Suatu aspek yang menentukan pada upaya persiapan terciptanya kondisi lebih baik dari seseorang siswa secara individu dan memiliki kondisi prima, memiliki aktivitas serta berenergi”. Menurut Coefen (Hasibuan, 2005:130) menjelaskan bahwa “Motivasi merupakan proses yang menimbulkan aksi mendorong aktivitas dan mengatur pola kegiatan”. Orang yang mempunyai motif berprestasi akan berusaha untuk mencapai apa yang dituju dengan membuat lebih baik dari pada orang lain, atau lebih baik dari pada apa yang ia kerjakan.” Mc Cleland (dalam Surya M, 2004:65) mendefinisikan motif berprestasi itu sebagai berikut : . . . as learned motive, consceonies is nature, resulting from rewards or punishment of specific behaviour, specifically, ahievement motivation ia a drive where by behaviour shoul involve competition with standard of excellence, and if successful, produce a positive effect or if un successful produce a negative effet . . . Yang artinya bahwa tanpa disadari secara alami, hasil dari hadiah atau hukuman tingkah laku tertentu secara khusus, pencapaian motivasi adalah suatu pengantar dimana tingkah laku termasuk kompetisi dengan standar yang sangat baik dan jika berhasil akan menghasilkan pengaruh yang signifikan atau sebaliknya. Selanjutnya Mc Cleland, yang dikutip Adikusumo (1998:124) menyatakan : “Seseorang mempunyai motivasi untuk bekerja karena adanya kebutuhan untuk berprestasi. Motivasi disini merupakan fungsi dari tiga variable, yaitu (1) harapan untuk melaksanakan tugas dengan berhasil (2) persepi tentang nilai tugas tersebut dan (3) kebutuhan untuk keberhasilan atau sukses”. Sehingga seseorang yang mempunyai motif berprestasi akan selalu berusaha bersaing secara sehat dalam halam kemampuan menyelesaikan segala pekerjaan atau tugas yang diberikan kepadanya. Motif berprestasi tidak selalu nampak, tetapi baru diperkirakan akan nampak dalam tingkah laku pencapaiannya. Seseorang yang mempunyai motif berprestasi tinggi selalu senang dengan meraih sesuatu yang unggul. Ukuran keunggulan ada tiga macam, yaitu : (1) tugas yang berhubungan dengan keunggulan yang mengacu pada kehebatan dalam mencapai tugas tersebut (2) diri sendiri (self) yang berhubungan dengan ukuran keunggulan yang mengacu pada prestasinya sendiri yang dicapai (3) orang lain yang berhubungan dengan ukuran keunggulan yang mengacu pada perbedaan yang dicapai orang lain misalnya dalam kompetisi. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi memiliki karaktersitik sebagai berikut : (1) lebih mengharapkan sukses dan lebih percaya pada diri sendiri dalam menghadapi tugas (2) cenderung menyederhanakan kesulitan dalam mencapai tugas dan bekerja keras (3) tidak senang membuang-buang waktu (4) kokoh dalam pendiriannya dalam menyelesaikan tugas (5) mempunyai kemampuan lebih dari orang lain. Motif berprestasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri maupun dari luar manusia itu sendiri untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan pikirannya untuk dapat berperilaku yang baik dan mendapat umpan balik sehingga dari hasil itu terwujud sesuatu yang sangat memuaskan. Orang yang memiliki motif berprestasi tinggi akan merasa tidak cukup hanya sampai kepada standar yang dimiliki oleh orang lain, tetapi selalu berusaha dengan sungguh-sungguh ingin melampauinya, dengan perkataan lain selalu ingin memiliki keunggulan. Kondisi seperti ini sangatlah diperlukan untuk kemajuan secara umum, walau pada akhirnya kita semua hanyalah berkehendak selepas itu tentu saja Allah lah yang menentukan segalanya. ---

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Senin, 05 September 2016 0 komentar

Alternatif Cara Belajar Yang Efektif Oleh ; Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd.*) Banyak cara dan metode yang bisa diterapkan agar belajar kita menjadi lebih efektif. Kefektifan dari sekian cara dan metode banyak dipengaruhi karakter individu masing-masing. Kenyamanan dan kesenangan atau bahkan kesungguhan dan komitmen yang dibentuk itulah yang lebih mengantarkan individu kepada situasi zona keefektifan. Salah satu cara belajar yang potensi efektifitasnya tinggi bisa dengan IR5 (Intention, Read, Record, Review, Repeat dan Refreshing). Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Intention (Niat) Dalam islam niat menurut istilah syar’i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika bermaksud kepada sesuatu tetapi tidak disertai perbuatan maka ini dinamakan azzam. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah shalallahu wa ‘alaihi wa sallam Setiap amalan tergantung niatnya. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta’ala ’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya… (HR. Bukhari dan Muslim) Jadi dalam hal ini, niatkan belajar dengan penuh kesungguhan, komitmen yang tinggi semata mengharap kebaikan dan ridho Allah SWT. 2. Read (Membaca) Membaca menjadi kekuatan seseorang individu, malah sesuatu bangsa dan kekuatan sebuah negara. Dikatakan bahwa betapa kuat pun sistem keamanan atau sistem ekonomi sebuah negara, pasti akan tumbang juga akhirnya jika tidak didasari oleh ketinggian ilmu pengetahuan. Tahapan awal, sudah tentu ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses membaca. Dari “Wawasan Qur’an” karangan Quraish Syihab, makna kata “Iqra” terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut ‘bismi Rabbik’, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Di tingkatan pendidkan sekolah, telah terbukti bahwa aktivitas dan kebiasaan membaca di kalangan pelajar telah melahirkan individu yang berprestasi dalam berbagai aspek. Prestasi mereka tidak hanya pada bidang akademik saja, tetapi berperan langsung terhadap keterampilan dan kepribadiannya. Dan bagi sekolah yang telah membiasakan anak didiknya membaca ikut meningkat prestasinya 3. Record (rekam) Merekam di sini adalah menyimpan secara rapi dalam memori otak kita segala sesuatu yang telah kita rasa, lihat, dan dengar. Banyak ragam untuk merekamnya diantaranya adalah daya ingat bisa dilatih dengan membiasakan diri untuk menulis. Hal ini mungkin sudah sering perbincangkan. Ketika anda dulu di bangku sekolah, anda selalu diminta mencatat apa yang diterangkan oleh Bapak dan Ibu Guru. Tujuannya tentu saja agar anda bisa mengulang lagi apa yang diajarkan pada hari itu, dan agar anda mampu mengingat kembali pelajaran tersebut. Meskipun menulis dapat membantu melatih ingatan kita, namun nyatanya masih banyak dari kita yang menulis justru dengan tujuan untuk melupakannya. Maksudnya begini, ketika anda mendengarkan pelajaran/kuliah/seminar atau informasi apapun yang menurut anda penting untuk diingat, anda akan mencatat informasi tersebut dengan harapan bahwa anda tidak perlu lagi mengingat informasi yang baru saja anda dengar. Jika yang terjadi adalah seperti yang disebutkan diatas, maka manfaat dari menulis menjadi tidak ada lagi. Justru sebaliknya, kegiatan menulis tersebut menjadi musuh baru bagi ingatan anda. Mulailah dengan menulis hal-hal kecil di sekitar anda. Mulailah untuk menulis diary atau semacamnya untuk mengetahui seberapa besar ingatan anda terhadap apa yang anda alami seharian ini. Jangan sepelekan efek dari menulis. Meskipun ini salah satu teknik paling sederhana, manfaat yang akan anda dapatkan bisa menjadi sangat luar biasa. 4. Review (ulasan) Dari words definition artikata.com didapatkan mengulas berarti memberikan penjelasan dan komentar, menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat), mempelajari (menyelidiki) sedangkan ulasan adalah kupasan, tafsiran atau komentar. Untuk itu kita harus senantiasa mencoba memberikan respon terhadap bahan ajar/materi/informasi yang sedang dihadapi, baik berupa ungkapan persamaan persepsi, perbedaan dari sisi-sisi terkecil, atau bahkan perbedaan mendasar di samping pertanyaan petanyaan ringan yang memperjelas pemahaman. Jika hal tersebut menjadi kebiasaan maka tentu saja upaya maksimal untuk menangkap pesan pembelajaran dalam otak kita senantiasa bereaksi optimal. 5. Repeat (mengulang-ulang) Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat, proses belajarnya dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup dan memadai, metode yang dipakai harus dengan cara pengulangan secara terus menerus metode pengajarannya membekas dalam diri pelajar, perhatian terhadap pendidikan ruhaniyah, fikriyah, jismiyah, nafsiyah. Banyak orang mengira bahwa mengulang dan menghafal pelajaran akan membuat otak tidak berkembang dan tumpul, karena tidak dilatih untuk berpikir. Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena sejarah membuktikan bahwa hafalan dan pengulangan ternyata mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Hal ini telah diakui para ahli, sebut saja Negara Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya. Orang-orang besar mereka di dalam mendidik anak buahnya ternyata menggunakan teori pengulangan dan hafalan. Teori pengulangan tersebut dikenal dengan teori ( Repetitive Magic Power ) yang berarti kekuatan ajaib dalam pengulangan. Di Jepang pola ini diterapkan, di mana para instruktur mewajibkan para siswa eksekutifnya untuk mengucapkan kalimat ‘ saya juara “ seratus kali dalam sehari selama masa latihan. Dan ini dimaksudkan untuk menjaga energi agar tidak hilang. William James, seorang ahli psikologi Amerika mengatakan bahwa apa saja yang anda lakukan 45 kali berturut-turut, maka akan menjadi kebiasaan. Menurut Doug Hooper Angka 45 tersebut sangatlah logis. Begitu juga para guru dari Timur telah menjelaskan kebiasaan dengan cara sbb : Kesinambungan suatu pemikiran atau tindakan dalam suatu jangka waktu akan menyebabkan terbentuknya sebuah alur, atau saluran di dalam otak. Menurut teori belajar Herbart ( 1776-1841 ), inti belajar, di samping pemberian tanggapan yang jelas, ialah pengulangan yang bertujuan untuk memasukkan sesering mungkin ke dalam kesadaran. Dalam suatu hadits disebutkan : Diriwayatkan dari Anas ra, bahwasanya Rosulullah saw jika berbicara suatu masalah diulanginya sampai tiga kali, agar bisa dipahami. “ ( HR Bukhari, no : 95 ) 6. Refreshing (penyegaran kembali) Setelah aktivitas membaca, menulis, mengulas, mengulang-ulang maka perlu otak kita, jasmani dan rohani kita di refresh (disegarkan) kembali sehingga terasa nyaman dan ringan, sehat dan terasa baru. Anjuran dari ahli komputer, sesering mungkin saat kita bekerja kita meng-klik refresh agar komputer kita lancar di ajak bekerja karena selalu dalam keadaan ‘segar’ walaupun panas. Jasmani kita akan lelah kalau tidak istirahat sehingga memerlukan ‘refreshing’ atau penyegaran kembali dengan istirahat atau aktivitas ringan yang menyenangkan. Demikian juga rohani kita perlu penyegaran minimal sebanyak 5 kali dalam sehari melalui shalat dan bisa lebih dari itu melalui ibadah lain dengan catatan semuanya ikhlas kita lakukan. “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Mohon maaf lahir dan batin” *) Pengawas Sekolah Madya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis --

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. 0 komentar

Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd.* Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam menyampaikan materi pembelajaran, ada beberapa strategi yang bisa dipakai sebagai alternatif acuan bagi guru, yaitu : 1. Strategi urutan penyampaian simultan Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu (Metode global). Misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila yang terdiri dari lima sila. Pertama-tama Guru menyajikan lima sila sekaligus secara garis besar, kemudian setiap sila disajikan secara mendalam. 2. Strategi urutan penyampaian suksesif Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila. Pertama-tama guru menyajikan sila pertama yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah sila pertama disajikan secara mendalam, baru kemudian menyajikan sila berikutnya yaitu sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Strategi penyampaian fakta Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut: a. Sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar. b. Berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi berpasangan, dsb. Bantuan penyampaian materi fakta secara bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk membantu menghafal. Sebagai contoh, untuk menghafal jenis-jenis sumber belajar digunakan cara berpikir: Apa, oleh siapa, dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa? Berdasar kerangka berpikir tersebut, jenis-jenis sumber belajar diklasifikasikan manjadi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Bantuan mengingat-ingat jenis-jenis sumber belajar tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics) menjadi POBATEL (Pesan, orang bahan, alat, teknik, lingkungan). Contoh penggunaan jembatan keledai atau jembatan ingatan: (1) PAO-HOA (Panas April-Oktober, Hujan Oktober – April). (2) Untuk menghafal nama-nama bulan yang berumur 30 hari digunakan AJUSENO (April, Juni, September, Nopember). 4. Strategi penyampaian konsep Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan kelima berikan tes. 5. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah : a) Sajikan prinsip b) Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip c) Berikan soal-soal latihan d) Berikan umpan balik e) Berikan tes. 6. Strategi penyampaian prosedur Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah menyetel televisi. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi: a. Menyajikan prosedur b. Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur c. Memberikan latihan (praktek) d. Memberikan umpan balik e. Memberikan tes. 7. Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma. (Dari berbagai sumber). Seorang pesimis senantiasa mengeluh tentang keadaan angin, seorang optimis penuh harap akan datangnya angin sesuai arah yang diharapkan, sedangkan seorang pemimpin akan senantiasa sigap kapan saja mengatur layar ---- ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- *) Pengawas Sekolah Madya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis --

Diposting oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 12 Juni 2016 0 komentar

Subscribe here

Uju Gunawan

Foto saya
Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat, Indonesia
Jangan pernah terlalu bersedih dengan apa yang luput darimu juga jangan terlalu bergembira dengan apa yang telah kau dapatkan.... Sikapi semua dengan wajar dengan penuh rasa syukur..OK!
Ada kesalahan di dalam gadget ini