Pengikut

SELAMAT DATANG

sambil ngopi cooooyyyyyy ! hehe

SENANTIASA BERUPAYA TUMBUHKAN MOTIF BERPRESTASI Oleh: Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Motif berprestasi adalah suatu bentuk yang lebih spesifik dari motivasi instrinsik. Untuk membicarakan motif berprestasi kita tidak bisa memisahkan diri dari pengertian motivasi secara keseluruhan. Maslow (dalam Fred Luthasns, 1995:141) mengemukakan teori motivasi yang dikenal dengan Humanistiie theory. Maslow mengemukakan “ suatu hirarki kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa aman, kebutuhan affiliasi, atau akseptnasi, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan perwujudan diri. Mc Cleland (Hasibuan, 2005:124) berpendapat bahwa setiap orang memiliki tiga jenis kebutuhan dasar, yaitu : (1) kebutuhan akan kekuasaaan (2) kebutuhan untuk beraffiliasi, (3) kebutuhan berprestasi. Kebutuhan akan kekuasaan dalam keinginan mempengaruhi orang lain. Motivasi merupakan perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan diahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. James, AF. Stoner, dan Charles Winkel (1989:94) menyatakan : “Orang yang mempunyai motif berprestasi memiliki beberapa karakteristik khusus yang sangat unik, yaitu (1) mereka ingin mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pekerjaan dan tugas, (2) mereka cenderung menentukan tujuan sendiri dan mengambil resiko yang telah diperhitungkan untuk mencapai tujuan, (3) mereka sangat mementingkan umpan balik mengenai seberapa baik melakukan sesuatu. Travers (Siagian, 2004:123) lebih menitik beratkan kepada masalah kondisi. “Suatu aspek yang menentukan pada upaya persiapan terciptanya kondisi lebih baik dari seseorang siswa secara individu dan memiliki kondisi prima, memiliki aktivitas serta berenergi”. Menurut Coefen (Hasibuan, 2005:130) menjelaskan bahwa “Motivasi merupakan proses yang menimbulkan aksi mendorong aktivitas dan mengatur pola kegiatan”. Orang yang mempunyai motif berprestasi akan berusaha untuk mencapai apa yang dituju dengan membuat lebih baik dari pada orang lain, atau lebih baik dari pada apa yang ia kerjakan.” Mc Cleland (dalam Surya M, 2004:65) mendefinisikan motif berprestasi itu sebagai berikut : . . . as learned motive, consceonies is nature, resulting from rewards or punishment of specific behaviour, specifically, ahievement motivation ia a drive where by behaviour shoul involve competition with standard of excellence, and if successful, produce a positive effect or if un successful produce a negative effet . . . Yang artinya bahwa tanpa disadari secara alami, hasil dari hadiah atau hukuman tingkah laku tertentu secara khusus, pencapaian motivasi adalah suatu pengantar dimana tingkah laku termasuk kompetisi dengan standar yang sangat baik dan jika berhasil akan menghasilkan pengaruh yang signifikan atau sebaliknya. Selanjutnya Mc Cleland, yang dikutip Adikusumo (1998:124) menyatakan : “Seseorang mempunyai motivasi untuk bekerja karena adanya kebutuhan untuk berprestasi. Motivasi disini merupakan fungsi dari tiga variable, yaitu (1) harapan untuk melaksanakan tugas dengan berhasil (2) persepi tentang nilai tugas tersebut dan (3) kebutuhan untuk keberhasilan atau sukses”. Sehingga seseorang yang mempunyai motif berprestasi akan selalu berusaha bersaing secara sehat dalam halam kemampuan menyelesaikan segala pekerjaan atau tugas yang diberikan kepadanya. Motif berprestasi tidak selalu nampak, tetapi baru diperkirakan akan nampak dalam tingkah laku pencapaiannya. Seseorang yang mempunyai motif berprestasi tinggi selalu senang dengan meraih sesuatu yang unggul. Ukuran keunggulan ada tiga macam, yaitu : (1) tugas yang berhubungan dengan keunggulan yang mengacu pada kehebatan dalam mencapai tugas tersebut (2) diri sendiri (self) yang berhubungan dengan ukuran keunggulan yang mengacu pada prestasinya sendiri yang dicapai (3) orang lain yang berhubungan dengan ukuran keunggulan yang mengacu pada perbedaan yang dicapai orang lain misalnya dalam kompetisi. Individu yang mempunyai motif berprestasi tinggi memiliki karaktersitik sebagai berikut : (1) lebih mengharapkan sukses dan lebih percaya pada diri sendiri dalam menghadapi tugas (2) cenderung menyederhanakan kesulitan dalam mencapai tugas dan bekerja keras (3) tidak senang membuang-buang waktu (4) kokoh dalam pendiriannya dalam menyelesaikan tugas (5) mempunyai kemampuan lebih dari orang lain. Motif berprestasi merupakan suatu dorongan dari dalam diri manusia itu sendiri maupun dari luar manusia itu sendiri untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas dalam rangka memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan pikirannya untuk dapat berperilaku yang baik dan mendapat umpan balik sehingga dari hasil itu terwujud sesuatu yang sangat memuaskan. Orang yang memiliki motif berprestasi tinggi akan merasa tidak cukup hanya sampai kepada standar yang dimiliki oleh orang lain, tetapi selalu berusaha dengan sungguh-sungguh ingin melampauinya, dengan perkataan lain selalu ingin memiliki keunggulan. Kondisi seperti ini sangatlah diperlukan untuk kemajuan secara umum, walau pada akhirnya kita semua hanyalah berkehendak selepas itu tentu saja Allah lah yang menentukan segalanya. ---

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Senin, 05 September 2016 0 komentar

Alternatif Cara Belajar Yang Efektif Oleh ; Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd.*) Banyak cara dan metode yang bisa diterapkan agar belajar kita menjadi lebih efektif. Kefektifan dari sekian cara dan metode banyak dipengaruhi karakter individu masing-masing. Kenyamanan dan kesenangan atau bahkan kesungguhan dan komitmen yang dibentuk itulah yang lebih mengantarkan individu kepada situasi zona keefektifan. Salah satu cara belajar yang potensi efektifitasnya tinggi bisa dengan IR5 (Intention, Read, Record, Review, Repeat dan Refreshing). Lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Intention (Niat) Dalam islam niat menurut istilah syar’i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika bermaksud kepada sesuatu tetapi tidak disertai perbuatan maka ini dinamakan azzam. Imam Nawawi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah shalallahu wa ‘alaihi wa sallam Setiap amalan tergantung niatnya. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta’ala ’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya… (HR. Bukhari dan Muslim) Jadi dalam hal ini, niatkan belajar dengan penuh kesungguhan, komitmen yang tinggi semata mengharap kebaikan dan ridho Allah SWT. 2. Read (Membaca) Membaca menjadi kekuatan seseorang individu, malah sesuatu bangsa dan kekuatan sebuah negara. Dikatakan bahwa betapa kuat pun sistem keamanan atau sistem ekonomi sebuah negara, pasti akan tumbang juga akhirnya jika tidak didasari oleh ketinggian ilmu pengetahuan. Tahapan awal, sudah tentu ilmu pengetahuan diperoleh melalui proses membaca. Dari “Wawasan Qur’an” karangan Quraish Syihab, makna kata “Iqra” terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks tertulis maupun tidak. Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut ‘bismi Rabbik’, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Di tingkatan pendidkan sekolah, telah terbukti bahwa aktivitas dan kebiasaan membaca di kalangan pelajar telah melahirkan individu yang berprestasi dalam berbagai aspek. Prestasi mereka tidak hanya pada bidang akademik saja, tetapi berperan langsung terhadap keterampilan dan kepribadiannya. Dan bagi sekolah yang telah membiasakan anak didiknya membaca ikut meningkat prestasinya 3. Record (rekam) Merekam di sini adalah menyimpan secara rapi dalam memori otak kita segala sesuatu yang telah kita rasa, lihat, dan dengar. Banyak ragam untuk merekamnya diantaranya adalah daya ingat bisa dilatih dengan membiasakan diri untuk menulis. Hal ini mungkin sudah sering perbincangkan. Ketika anda dulu di bangku sekolah, anda selalu diminta mencatat apa yang diterangkan oleh Bapak dan Ibu Guru. Tujuannya tentu saja agar anda bisa mengulang lagi apa yang diajarkan pada hari itu, dan agar anda mampu mengingat kembali pelajaran tersebut. Meskipun menulis dapat membantu melatih ingatan kita, namun nyatanya masih banyak dari kita yang menulis justru dengan tujuan untuk melupakannya. Maksudnya begini, ketika anda mendengarkan pelajaran/kuliah/seminar atau informasi apapun yang menurut anda penting untuk diingat, anda akan mencatat informasi tersebut dengan harapan bahwa anda tidak perlu lagi mengingat informasi yang baru saja anda dengar. Jika yang terjadi adalah seperti yang disebutkan diatas, maka manfaat dari menulis menjadi tidak ada lagi. Justru sebaliknya, kegiatan menulis tersebut menjadi musuh baru bagi ingatan anda. Mulailah dengan menulis hal-hal kecil di sekitar anda. Mulailah untuk menulis diary atau semacamnya untuk mengetahui seberapa besar ingatan anda terhadap apa yang anda alami seharian ini. Jangan sepelekan efek dari menulis. Meskipun ini salah satu teknik paling sederhana, manfaat yang akan anda dapatkan bisa menjadi sangat luar biasa. 4. Review (ulasan) Dari words definition artikata.com didapatkan mengulas berarti memberikan penjelasan dan komentar, menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat), mempelajari (menyelidiki) sedangkan ulasan adalah kupasan, tafsiran atau komentar. Untuk itu kita harus senantiasa mencoba memberikan respon terhadap bahan ajar/materi/informasi yang sedang dihadapi, baik berupa ungkapan persamaan persepsi, perbedaan dari sisi-sisi terkecil, atau bahkan perbedaan mendasar di samping pertanyaan petanyaan ringan yang memperjelas pemahaman. Jika hal tersebut menjadi kebiasaan maka tentu saja upaya maksimal untuk menangkap pesan pembelajaran dalam otak kita senantiasa bereaksi optimal. 5. Repeat (mengulang-ulang) Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat, proses belajarnya dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup dan memadai, metode yang dipakai harus dengan cara pengulangan secara terus menerus metode pengajarannya membekas dalam diri pelajar, perhatian terhadap pendidikan ruhaniyah, fikriyah, jismiyah, nafsiyah. Banyak orang mengira bahwa mengulang dan menghafal pelajaran akan membuat otak tidak berkembang dan tumpul, karena tidak dilatih untuk berpikir. Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena sejarah membuktikan bahwa hafalan dan pengulangan ternyata mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Hal ini telah diakui para ahli, sebut saja Negara Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologinya. Orang-orang besar mereka di dalam mendidik anak buahnya ternyata menggunakan teori pengulangan dan hafalan. Teori pengulangan tersebut dikenal dengan teori ( Repetitive Magic Power ) yang berarti kekuatan ajaib dalam pengulangan. Di Jepang pola ini diterapkan, di mana para instruktur mewajibkan para siswa eksekutifnya untuk mengucapkan kalimat ‘ saya juara “ seratus kali dalam sehari selama masa latihan. Dan ini dimaksudkan untuk menjaga energi agar tidak hilang. William James, seorang ahli psikologi Amerika mengatakan bahwa apa saja yang anda lakukan 45 kali berturut-turut, maka akan menjadi kebiasaan. Menurut Doug Hooper Angka 45 tersebut sangatlah logis. Begitu juga para guru dari Timur telah menjelaskan kebiasaan dengan cara sbb : Kesinambungan suatu pemikiran atau tindakan dalam suatu jangka waktu akan menyebabkan terbentuknya sebuah alur, atau saluran di dalam otak. Menurut teori belajar Herbart ( 1776-1841 ), inti belajar, di samping pemberian tanggapan yang jelas, ialah pengulangan yang bertujuan untuk memasukkan sesering mungkin ke dalam kesadaran. Dalam suatu hadits disebutkan : Diriwayatkan dari Anas ra, bahwasanya Rosulullah saw jika berbicara suatu masalah diulanginya sampai tiga kali, agar bisa dipahami. “ ( HR Bukhari, no : 95 ) 6. Refreshing (penyegaran kembali) Setelah aktivitas membaca, menulis, mengulas, mengulang-ulang maka perlu otak kita, jasmani dan rohani kita di refresh (disegarkan) kembali sehingga terasa nyaman dan ringan, sehat dan terasa baru. Anjuran dari ahli komputer, sesering mungkin saat kita bekerja kita meng-klik refresh agar komputer kita lancar di ajak bekerja karena selalu dalam keadaan ‘segar’ walaupun panas. Jasmani kita akan lelah kalau tidak istirahat sehingga memerlukan ‘refreshing’ atau penyegaran kembali dengan istirahat atau aktivitas ringan yang menyenangkan. Demikian juga rohani kita perlu penyegaran minimal sebanyak 5 kali dalam sehari melalui shalat dan bisa lebih dari itu melalui ibadah lain dengan catatan semuanya ikhlas kita lakukan. “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, Mohon maaf lahir dan batin” *) Pengawas Sekolah Madya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis --

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. 0 komentar

Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd.* Ditinjau dari guru, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran berupa kegiatan guru menyampaikan atau mengajarkan kepada siswa. Sebaliknya, ditinjau dari segi siswa, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau berinteraksi dengan materi pembelajaran. Secara khusus dalam menyampaikan materi pembelajaran, ada beberapa strategi yang bisa dipakai sebagai alternatif acuan bagi guru, yaitu : 1. Strategi urutan penyampaian simultan Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan disajikan secara serentak, baru kemudian diperdalam satu demi satu (Metode global). Misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila yang terdiri dari lima sila. Pertama-tama Guru menyajikan lima sila sekaligus secara garis besar, kemudian setiap sila disajikan secara mendalam. 2. Strategi urutan penyampaian suksesif Jika guru harus manyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu, maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan materi berikutnya secara mendalam pula. Contoh yang sama, misalnya guru akan mengajarkan materi Sila-sila Pancasila. Pertama-tama guru menyajikan sila pertama yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah sila pertama disajikan secara mendalam, baru kemudian menyajikan sila berikutnya yaitu sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Strategi penyampaian fakta Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran termasuk jenis fakta (nama-nama benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau simbol, dsb.) strategi yang tepat untuk mengajarkan materi tersebut adalah sebagai berikut: a. Sajikan materi fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar. b. Berikan bantuan kepada siswa untuk menghafal. Bantuan diberikan dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi berpasangan, dsb. Bantuan penyampaian materi fakta secara bermakna, misalnya menggunakan cara berpikir tertentu untuk membantu menghafal. Sebagai contoh, untuk menghafal jenis-jenis sumber belajar digunakan cara berpikir: Apa, oleh siapa, dengan menggunakan bahan, alat, teknik, dan lingkungan seperti apa? Berdasar kerangka berpikir tersebut, jenis-jenis sumber belajar diklasifikasikan manjadi: Pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan. Bantuan mengingat-ingat jenis-jenis sumber belajar tersebut menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics) menjadi POBATEL (Pesan, orang bahan, alat, teknik, lingkungan). Contoh penggunaan jembatan keledai atau jembatan ingatan: (1) PAO-HOA (Panas April-Oktober, Hujan Oktober – April). (2) Untuk menghafal nama-nama bulan yang berumur 30 hari digunakan AJUSENO (April, Juni, September, Nopember). 4. Strategi penyampaian konsep Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar siswa paham, dapat menunjukkan ciri-ciri, unsur, membedakan, membandingkan, menggeneralisasi, dsb. Langkah-langkah mengajarkan konsep: Pertama sajikan konsep, kedua berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan contoh), ketiga berikan latihan (exercise) misalnya berupa tugas untuk mencari contoh lain, keempat berikan umpan balik, dan kelima berikan tes. 5. Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum (law), postulat, teorema, dsb. Langkah-langkah mengajarkan atau menyampaikan materi pembelajaran jenis prinsip adalah : a) Sajikan prinsip b) Berikan bantuan berupa contoh penerapan prinsip c) Berikan soal-soal latihan d) Berikan umpan balik e) Berikan tes. 6. Strategi penyampaian prosedur Tujuan mempelajari prosedur adalah agar siswa dapat melakukan atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal. Termasuk materi pembelajaran jenis prosedur adalah langkah-langkah mengerjakan suatu tugas secara urut. Misalnya langkah-langkah menyetel televisi. Langkah-langkah mengajarkan prosedur meliputi: a. Menyajikan prosedur b. Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara melaksanakan prosedur c. Memberikan latihan (praktek) d. Memberikan umpan balik e. Memberikan tes. 7. Strategi mengajarkan/menyampaikan materi aspek afektif Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom (1978) adalah pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain: penciptaan kondisi, pemodelan atau contoh, demonstrasi, simulasi, penyampaian ajaran atau dogma. (Dari berbagai sumber). Seorang pesimis senantiasa mengeluh tentang keadaan angin, seorang optimis penuh harap akan datangnya angin sesuai arah yang diharapkan, sedangkan seorang pemimpin akan senantiasa sigap kapan saja mengatur layar ---- ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- *) Pengawas Sekolah Madya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ciamis --

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 12 Juni 2016 0 komentar

ELASTISITAS HATI MERESPON PERSOALAN DIRI Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Berbagai persoalan dalam hidup senantiasa melingkupi, mengepung dari berbagai arah serta menghunjam bertubi-tubi. Ketika suatu saat dengan berbagai upaya katakanlah nyaris berhasil terlepas dari satu persoalan, persoalan lain sudah siap mengikat menjerat dan menerkam. Persoalan tersebut muncul dari porsi yang amat sederhana sampai yang paling rumit sekalipun. Dalam rentang derajat kerumitan yang manapun hati punya kapasitas elastistas berbeda untuk “meloading” dan membacanya. Seseorang “A” sangat mungkin menerjemahkan persoalan sederhana menjadi sebuah persoalan besar dan dianggap bencana, tapi pada posisi lain bisa terbaca persoalan “remeh temeh” saja untuk seorang ”B”. Begitu pun sebaliknya. Hati ibarat wadah seberapa cukup atau seberapa luber ketika air tertumpah ke dalamnya. Namun wadah hati tersebut sangatlah elastis, bagaimana seseorang punya daya respon dan kecepatan daya banding dengan pengalaman persoalan-persoalan lain yang sudah menjadi referensi dan literatur hidupnya. Kisah cerita seorang pemuda yang sedang dirundung persoalan cinta berjalan terhuyung penuh kekalutan disebuah pinggiran danau. Deraan persoalan yang diapresiasi sebagai sebuah bencana dahsyat di matanya seolah tak ada jalan keluar dari kepedihan ini. Degupan jantungnya melebihi ledakan bom di Jalan Thamrin tempo hari. Kondisi ini hampir menuntunnya untuk menceburkan diri lari dari persoalan dengan berniat mengakhiri hidupnya. Beberapa detik sebelum hal itu terjadi tiba-tiba seorang tua menyapanya. “Ada persoalan apa gerangan Nak yang sedang kau hayati?”, “Aku merasa sangat malang dan terperosok dalam kepedihan yang teramat dalam, Kek, Aku putus asa” dan seterusnya dan seterusnya acara curhat bersama kakekpun berjalan lancar, tertib, terkendali walau tanpa moderator seorangpun. “Nak, kakek punya sesendok garam dan akan kakek tuangkan pada segelas air, coba kau cicipi!”. Dengan punya dugaan mistis dan sugesti tinggi serta harapan meredakan ketegangan hidupnya si pemuda menurut saja dan yang terjadi serta merta dia menyemburkan air dari mulutnya seraya berteriak keasinan. Tanpa kata si kakek mengajak pemuda berjalan di pinggir danau, si pemuda mengikut saja sambil penuh tanya. “Nak, kakek akan tuangkan persis sesendok garam seperti tadi ke danau ini, silahkan coba kau cicipi rasa airnya!” Tanpa perlu menurut perintah kakek pemuda itu termenung dan mulai mengerti satu bentuk persoalan bisa menjadi sebuah bencana dan atau tak berarti apa-apa tergantung hati ini apakah hanya ibarat sebuah gelas kecil atau ibarat luasnya danau yang terbentang. Bagi hati yang seluas danau persoalan sesendok garam bukanlah apa-apa. Bagi hati seluas danau persoalan cinta mestinya bukan apa-apa. Bagi hati seluas danau apapun yang terjadi hanyalah romantika perjalanan hidup yang mesti diapresiasi, disyukuri sebagai anugrah Tuhan untuk bisa merasakan dan menemukan berbagai keindahan yang terselip dibaliknya. “Kenapa aku harus bersedih ya kek?”, pemuda itu menggumam sambil melirik kearah sang kakek tua. Namun sang kakek raib, berkelebat dan lenyap seketika. Kemana sang kakek pergi? Entahlah sampai artikel ini diturunkan kabar sang kakek masih belum ada kejelasannya dan ternyata kita dalam posisi tidak penting untuk memikirkan kemana gerangan sang kakek yang sakti itu pergi -- hehe Dari sekilas cerita tersebut dirasa menjadi sangat penting kita punya daya elastisitas dan respon positif yang tinggi terhadap berbagai persoalan kiri kanan depan belakang yang menyertai kehidupan kita sehari-hari. Pandanglah persoalan itu sebagai sebuah keniscayaan, sebagai sebuah siklus yang harus kita tempuh dan kita lalui dengan sikap sewajarnya saja. Betul itu bukan hal mudah, saat persoalan terjadi tidak jarang cuaca sekeliling ini menjadi sangat gelap, beberapa jalan pun lebih sering nampak tertutup dan itu respon manusiawi. Namun pengkondisian hati untuk lebih terbuka dan berusaha berdiri di tempat yang luas dan terang ini sangat membantu selama proses persoalan bermetamorfosis sampai menjadi sebuah eksekusi fakta dan kenyataan konkret yang ada. Kita lebih sering tertekan dan gagal dalam masa persoalan itu sedang berproses dibanding ketika persoalan itu sudah menjadi fakta kepahitan. Seberapa pahit kenyataan biasanya terlarut jua dengan waktu, dan kita sudah secara fitrah akan siap menerimannya. Siapkanlah hati kita untuk siap merespon segenap persoalan dengan ibarat keluasan danau bukan hanya dengan wadah-wadah kecil di sekeliling kita. Dan tentu saja tidak lupa kita senantiasa berdo’a pada yang kuasa untuk senantiasa diberi kekuatan dan ketabahan. Setiap saat segudang masalah dan persoalan mengintai dan siap menerkam kita. Katakanlah – Kita Bisa ! Semoga !.

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 01 Mei 2016 0 komentar

Web Info GTK telah resmi dirilis ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK). Perlu diketahui bahwa Ditjen GTK merupakan gabungan dari P2TK Dikdas dan BPSDMPK yang kemudian digabung menjadi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Untuk Apa Cek Info data Guru di Info GTK? Ada beberapa fungsi web info GTK. 1. Cek Data hasil pengiriman atau sinkronisasi Dapodikdas dan tunjangan guru Guru bisa melihat validitas data pribadi hasil input dari aplikasi dapodikdas seperti instansi mengajar, jumlah jam mengajar, validitas NUPTK, Cek tunjangan guru seperti tunjangan profesi (sertifikasi, fungsional, daerah khusus dll) (Buka juga web sputar Info Guru) 2. Cek Info UKG Yaitu untuk mengetahui nomor peserta UKG, Jadwal dan tempat UKG 2015 yang akan diselenggarakan Ditjen GTK bulan Nopember nanti. Nah silakan login Info GTK di salah satu alamat web di bawah ini, pilih salah satu saja. http://gtk.kemdikbud.go.id/ http://223.27.144.195:8081/info http://223.27.144.195:8082/info http://223.27.144.195:8083/info http://223.27.144.195:8084/info http://223.27.144.195:8085/info Jika muncul tulisan Maaf Akses anda tidak syah...,....... silakan klik kembali ke Beranda

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Selasa, 23 Februari 2016 0 komentar

Sekilas Mengenal Situs Astana Gede (Kawali - Ciamis) Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Situs Astana Gede Terletak di Desa Kawali, Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis, letaknya sekira 21 km dari kota Ciamis ke arah Utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis dan yang lebih menariknya lagi di situs ini terdapat tiga budaya yang berbeda yaitu antara budaya lokal, budaya Hindu dan Islam. Beberapa tinggalan arkeologis tersebut di dalamnya mencakup enam buah batu prasasti, tiga buah batu menhir, sebelas buah makam. Luas situs Astana Gede adalah sekitar 5 ha, keberadaannya dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan tinggi sehingga memberikan nuansa udara yang sejuk. Situs Astana Gede, Menurut Prof. Nina H. Lubis (dalam makalahnya yang berjudul, Tinggalan Arkeologis di Astana Gede Kawali), dikatakan situs Astana Gede karena di situs tersebut terdapat sebuah makam yang ukurannya besar, panjang sekali dan berbeda dengan makam-makam lain pada umumnya. Oleh karena itu dinamakan situs Astana Gede, dalam bahasa Sunda gede artinya besar. Namun ada juga versi yang menyebutkan bahwa di situs Astana Gede adalah karena tempat dimakamkannya orang-orang besar, dalam bahasa Sunda disebut gegeden. Terlepas dari itu, Makam tersebut diduga adalah Pangeran Usman, salah satu raja yang sudah memeluk agama Islam, beliau merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon. Situs Astana Gede mempunyai arti penting bagi sejarah Kerajaan di Indonesia, khsusnya di Tatar Sunda. Artefak atau tinggalan-tinggalan purbakala itu seakan-akan telah memberikan informasi bahwa di daerah tersebut pernah tumbuh Pusat Kerajaan Sunda – Kawali. Jika mengacu pada sasakala nama Kawali itu sendiri, yakni disana terdapat satu kolam yang berbentuk ”kuali” yang airnya tak pernah kering. Istilah kolam berbentuk kuali ini, menjadi cikal bakal nama Kecamatan Kawali sekarang. Prasasti Astana Gede atau Prasasti Kawali merujuk pada beberapa prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut, terutama pada prasasti "utama" yang bertuliskan paling banyak (Prasasti Kawali I). Adapun secara keseluruhan, terdapat enam buah prasasti yang masing-masing prasasti ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Sunda. Meskipun tidak berisi candrasangkala, prasasti ini diperkirakan berasal dari abad ke-14, dilihat berdasarkan nama-nama raja. Terjemahan dari Prasasti Kawali I berbunyi, sebagai berikut: “Demikian tapak pertama bekas yang mulia ialah Prabu Wastu yang bertahta di Kota Kawali, yang memperindah Istana Surawisesa, yang membuat parit keliling (ibu kota), yang menyuburkan seluruh pedesaan. Semoga para penerus dapat menerapkan kerja yang baik agar dapat unggul di dunia” Prasasti Kawali II, Prasasti ini memberikan informasi bahwa Prabu Wastu, berusaha untuk menyerahkan kehidupan rakyatnya dan menghimbau kepada para penerusnya agar mau bekerja dengan baik sebagai syarat untuk hidup bahagia dan berhasil. Jika dihubungkan dengan bunyi prasasti induknya, mungkin sekali tulisan itu dimaksudkan sebagai himbauan agar ia (Prabu Wastu) tidak dirintangi dalam upayanya itu karena ia akan tetap tegar, bahkan mereka yang menghalangi akan roboh. Prasasti Kawali III, prasasti ketiga, berupa batu andesit, berbentuk segi lima beraturan. Pada bagian atas prasasti terdapat tulisan dan bagian bawah terdapat dua sepasang telapak kaki serta satu telapak tangan (kiri). Selain itu, terdapat garis-garis yang melintang sebanyak Sembilan buah dan garis membujur lima buah berpotongan membentuk 45 buah segi empat berbeda-beda ukurannya. Di bagian kiri kotak-kotak ini terdapat tulisan singkat berbunyi angana atau mungkin seharusnya ajnana. Ada berbagai penafsiran tentang prasasti ini. Ada juga yang mengartikan “datang” atau “menghampiri”. Mungkin maksudnya mengharapkan kedatangan yang dipuja (raja yang berkuasa). Ada yang menafsirkan kotak-kotak ini sebagai kolenjer (kalender tradisional)untuk menghitung hari baik dan hari buruk.Prasasti Kawali IV, berupa sebatang tonggak batu andesit yang berdiri tegak seperti menhir, berbunyi sanghiyang lingga bingba. Dalam tradisi lokal, batu panyandaan ini adalah tempat bersandar bagi kaum ibu yang telah melahirkan selama 40 hari agar cepat pulih.Prasasti Kawali V yang juga dipahatkan pada tonggak batu berbunyi sanghiyang lingga hiyang. Menurut pendapat seorang arkeolog, prasasti ini mungkin merupakan lingga perwujudan arwah nenek-moyang. Dalam tradisi rakyat disebut batu pangandungan.Prasasti Kawali VI, yang ditemukan terakhir, berbentuk batu segi empat tidak beraturan, berisi enam baris tulisan yang isinya berupa pernyataan dari penguasa yang berada di dayeuh ‘ibu kota’ dan himbauan agar jangan suka berjudi atau bertaruh karena hanya akan membuat sengsara raja. Situs Astana Gede di samping sebagai taman Cagar Budaya dan sebagai obyek wisata budaya, juga merupakan obyek ilmu pengetahuan. Banyak tinggalan budaya masa lampau yang sudah dizamah oleh para ilmuwan seperti ahli arkeologi, ahli filologi, sejarawan, geolog, dsb. Tentunya mereka datang untuk melakukan penelitian mulai dari jenis batu-batuan, tulisan dan bahasanya, atau temuan-temuan lain yang berhasil digali terutama oleh para ahli arkeologi.Penelitian di Astana Gede mulai dilakukan pada zaman Belanda, tetapi lebih menitik beratkan pada prasasti. Tahun 1914 Oudhekumdige Diens mengadakan inventarisasi data arkeologi di Astana Gede Kawali ini. Prasasti ini pertamakali agaknya ditemukan pada masa Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbukti disebut-sebut dalam bukunya History of Java. Namun, prasasti itu baru dibaca secara serius oleh Friederich pada tahun 1855. Selanjutnya prasasti dibaca ulang oleh K.F. Holle, pada tahun 1867 dan terakhir J Noorduijn pada tahun 1988. Dua orang filolog Indonesia yang juga membaca ulang prasasti ini adalah Saleh Danasasmita (1984) dan Atja (1990). Situs Astana Gede Kawali sangat menarik untuk dikembangkan sebagai obyek wisata budaya, karena cukup lengkap ragam tinggalan budayanya, juga kandungan nilai-nilai luhur terutama pada prasasti-prasasti yang ada. (dari berbagai sumber) --

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Selasa, 09 Februari 2016 0 komentar

Sekilas Mengenal tentang Situs Karangkamulyan Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. Situs Karangkamulyan merupakan situs dari masa Hindu-Buddha dengan koordinat 7°20,84'S 108°29,376'E. Diperkirakan situs ini merupakan peninggalan masa Kerajaan Galuh. Situs Karangkamulyan berada di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing. Komplek situs berupa hutan yang luasnya 25,5 hektar berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan Ciamis – Banjar. Batas situs di sebelah utara adalah jalan raya, sebelah timur Sungai Cimuntur, selatan Sungai Citanduy, dan barat rest area. Kapan situs ini ditemukan tidak diketahui secara pasti. Masyarakat setempat menyebutkan bahwa sejak sekitar tahun 1700 komplek ini sudah sering dikunjungi untuk berbagai maksud. Namun demikian inventarisasi benda-benda purbakala yang dilakukan oleh N.J. Krom pada tahun 1914 tidak menyebutkan adanya komplek Karangkamulyan. Komplek situs Karangkamulyan sekarang merupakan objek wisata budaya yang sudah tertata rapi. Gerbang masuk utama terdapat di bagian barat. Pada bagian ini tersedia lahan parkir yang cukup luas dilengkapi fasilitas warung makanan yang berjajar rapi di bagian timur halaman parkir. Di sebelah selatan halaman parkir masih terdapat halaman cukup luas yang pada bagian barat berdiri fasilitas masjid yang cukup megah. Untuk memasuki komplek Karangkamulyan melalui pintu masuk yang terdapat di sisi timur halaman belakang tempat parkir. Dengan melalui jalan tanah yang terpelihara bersih beberapa situs dengan mudah dan nyaman dapat dijangkau. Di dalam komplek situs tersebut terdapat beberapa objek. a) Pangcalikan Pertama kali yang dijumpai dari pintu masuk situs ke arah timur yaitu Situs Pangcalikan. Situs ini berupa lahan yang telah diberi pagar. Situs Pangcalikan terdiri tiga halaman masing-masing dibatasi susunan batu dengan ketinggian sekitar 1 m lebar 0,35 m. Halaman pertama terletak di sebelah selatan. Halaman kedua terdapat di sebelah utara halaman pertama. Selanjutnya halaman ketiga terdapat di sebelah utara halaman kedua. Pada halaman ketiga ini terdapat bangunan cungkup tanpa dinding tetapi diselubungi vitrage putih. Tinggalan yang ada berupa batu putih tufaan berukuran 92 x 92 cm dengan tinggi keseluruhan 48 cm. Batu ini oleh masyarakat disebut pangcalikan. Di sebelah selatan batu ini berjajar tiga buah batu datar dari bahan andesitik. Di sebelah barat daya batu pangcalikan terdapat sekumpulan batu satu diantaranya berbentuk bulat panjang. b) Sipatahunan, Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam Melalui jalan tanah ke arah timur terdapat simpang empat. Simpang empat ini ke arah utara menuju Sipatahunan dan ke arah selatan menuju Situs Sanghyang Bedil dan Panyabungan Hayam. Sipatahunan adalah salah satu bagian tepian Citanduy yang landai. Situs Sanghyang Bedil berupa bangunan susunan batu berbentuk segi empat. Pada sisi selatan terdapat celah tembok sebagai jalan masuk. Di tengah lahan terdapat 2 batu panjang dalam keadaan patah. Sebuah batu dalam posisi tegak dan yang satunya lagi roboh. Batu yang roboh ini disebut Sanghyang Bedil karena bentuknya mirip senapan (bedil). Di sebelah selatan Situs Sanghyang Bedil terdapat lahan yang disebut Panyabungan Hayam. Halaman ini berbentuk melingkar yang di tengahnya terdapat pohon bungur. Pada sisi utara terdapat tatanan batu. c) Lambang Peribadatan Menyusuri jalan tanah ke arah utara kemudian berbelok ke timur akan dijumpai batu Lambang Peribadatan. Batu ini berada pada halaman yang dibatasi susunan batu berbentuk bujur sangkar. Jalan masuk berada di sisi timur. Di tengah halaman terdapat batu berdiri berbentuk segi empat panjang, dikelilingi susunan batu bulat. Batu berdiri tersebut dahulu (tahun 1960-an) ditemukan di sebelah utara lokasi sekarang pada jarak sekitar 10 m. Dengan berbagai pertimbangan kemudian didirikan di lokasi sekarang dan dibuatkan pagar dari susunan batu sebagaimana objek yang lain. d) Cikahuripan Menyusuri jalan tanah ke arah timur akan sampai di Cikahuripan. Cikahuripan merupakan pertemuan dua sungai kecil yang bernama Citeguh dan Cirahayu. Kondisi Cikahuripan yang ada sekarang merupakan tempat mandi untuk keperluan tertentu. Bangunan yang ada merupakan bangunan baru dengan dilengkapi berbagai fasilitas misalnya tempat sholat. e) Panyandaan dan Makam Sri Bhagawat Pohaci Ke arah timur dari Cikahuripan terdapat susunan batu berbentuk persegi yang menyerupai tembok batu. Pada sisi timur terdapat celah sebagai jalan masuk. Di tengah struktur batu keliling terdapat batu berdiri dan batu datar berbentuk segitiga yang dikelilingi susunan batu kecil. Situs ini disebut Panyandaan. Di depan Situs Panyandaan terdapat tiga buah batu berdiri yang salah satunya dalam posisi condong. Di sekitar batu berdiri ini terdapat sebaran batu-batu bulat. Objek ini dipercaya sebagai makam Sri Bhagawat Pohaci. f) Pamangkonan Situs Pamangkonan terletak jauh di sebelah selatan Situs Panyandaan atau di sebelah timur Situs Pangcalikan. Objek berupa susunan batu berbentuk persegi. Pada sisi timur terdapat celah sebagai jalan masuk. Di tengah objek terdapat susunan batu-batu bulat mengelilingi salah satu batu. Batu ini juga disebut Sanghyang Inditinditan dahulu ditemukan di Sungai Citanduy. g) Makam Adipati Panaekan Jalan dari Pamangkonan ke arah tenggara terdapat makam Adipati Panaekan. Objek yang ada berupa tatanan batu bersusun melingkar. Di tengah susunan batu tersebut terdapat makam. Adipati Panaekan adalah tokoh yang menurunkan bupati pertama Ciamis. h) Fetur Parit dan Benteng Selain beberapa objek sebagaimana disebutkan terdahulu, di komplek Karangkamulyan terdapat fetur parit. Parit ini dijumpai di sebelah barat halaman parkir dan di sekeliling situs inti. Jejak parit kuna di sebelah barat halaman parkir tepatnya terletak pada batas situs sekarang dengan kawasan rest area. Parit tersebut membujur utara-selatan menghubungkan antara Sungai Citanduy dengan Sungai Cimuntur. Keadaan parit di sebelah selatan jalan raya sudah tidak begitu tampak. Sedangkan di sebelah utara jalan raya masih jelas keadaannya. Lebar parit yang ada sekitar 10 m dengan kedalaman sekitar 2 m. Situs Karangkamulyan (Zona I), dikelilingi oleh parit kuna yang memiliki lebar bervariasi 0,5-1,5 meter, sebagian tertutup oleh semak. Pada sisi luar parit di sebelah terdapat gundukan tanah membentuk benteng membujur utara-selatan, dengan tinggi sekitar 2 m dengan lebar bervariasi antara 3 hingga 4 m. Dilihat dari jejak-jejak yang ada, benteng ini juga berlanjut hingga tepi Sungai Cimuntur. Berdasarkan temuan keramik asing menunjukkan berasal dari sekitar abad ke-10 – 17. Situs ini sangat cocok dijadikan objek wisata karena berada di jalur jalan utama yang menghubungkan Jawa Barat – Jawa Tengah. Pada sektor kepurbakalaan pemanfaatannya sudah dilakukan namun masih perlu adanya peningkatan. Sebagai peninggalan purbakala seharusnya informasi tentang kepurbakalaan itu sendiri yang perlu diangkat. Legenda yang melatarbelakanginya terasa lebih mendominir bila dibandingkan dengan aspek peninggalan purbakalanya. Keberadaan “rumah informasi” perlu ditingkatkan fungsinya. Lain dari pada itu, situs Karangkamulyan masih menyimpan potensi yang berkaitan dengan keanekargaman hayati yang ada di situs tersebut. Kera yang hidup di hutan dan berbagai jenis tumbuhan merupakan daya tarik tersendiri. --

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. 0 komentar

Beberapa Kesepakatan Tim Juri tentang materi dan penilaian pada lomba Pasanggiri dan FLS2N Pupuh Aspek yang dinilai : Vokal (50-100) Ekspresi (50-100) Penampilan (50-100) Dongeng Aspek yang dinilai : Penguasaan (40) Ekspresi (40) Penampilan (40) Cerita daerah Jawa Barat Menyerahkan teks dongeng 3 rangkap Aksara Sunda Aksara yang digunakan SUNDAES (bisa di download di grup FB UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Cijeungjing) Aspek yang dinilai : Membaca Kecepatan dan ketepatan (5-30) Intonasi (5-15) Menulis Keseimbangan (5-30) Ketepatan teks (5-15) Kerapihan (5-10) Tari Kreasi Aspek yang dinilai : Wiraga (50-100) Wirasa (50-100) Wirahma (50-100) Kesesuaian (50-100) Menyerahkan synopsis 3 rangkap Solo sama dengan pupuh Melukis Tema – Ragam Budaya Nusantara Aspek yang dinilai : Kreatifitas/originalitas (0-30) Keindahan (0-30) Kerapihan/kebersihan (0-20) Kesesuaian Judul (0-20) Cipta Puisi Tema : Nasionalisme, pendidikan dan budaya Aspek yang dinilai : Kesesuaian tema (50-100) Sistematika Diksi (50-100) Ejaan (50-100) Majas (50-100) Batik Tema : Bebas Aspek yang dinilai : Artistik 30 Kreatifitas 40 Originalitas 30 Waktu 4 jam – selama kegiatan guru pembimbing hanya mengamati dari tempat terpisah Pantomim Tema : Kegiatan sehari-hari Aspek yang dinilai : Kesesuaian 20 Ekspresi 40 Penampilan 40 Oprator dari sekolah masing-masing Menyerahkan synopsis 3 rangkap Anyaman Aspek yang dinilai : Bahan (50-100) Manfaat (50-100) Tingkat Kesulitan (50-100) Kerapihan (50-100) Kualitas (50-100) Tiga dimensi – ukuran max 30x40x60 Ukuran min 20x30x40 Pidato Tema : Patriotisme Waktu sekira 10 menit Aspek yang dinilai : Isi 40 Lafal/intonasi 40 Ekspresi 20 Menyerahkan teks pidato 3 rangkap Cergam Gambar pada kertas gambar ukuran besar dibagi enam kolom (satu halaman enam kolom) Selamat Mempersiapkan Peserta terbaik -- mudah-mudahan menjadi pemenang ---

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Jumat, 05 Februari 2016 0 komentar

MEMINIMALISIR “OWAH GINGSIR” Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd.* Owah gingsir adalah istilah dalam bahasa sunda yang maknanya kurang lebih keadaan hati yang tidak tetap, tidak “ajeg”, atau relative sering beralih-alih prinsif. Keadaan owah gingsir ini dalam keseharian sepertinya masih punya ruang toleransi permakluman yang cukup tinggi. Sehingga ketika seseorang masuk dalam kategori owah gingsir sepertinya hal itu biasa saja dan tak usah dipersalahkan. “Maklumlah pan jalmi mah sok keuna ku owah gingsir” demikian rangkaian kata permakluman yang sering terdengar untuk berjuta substansi kasus yang terjadi, dari tingkat kelalaian terendah sampai tertinggi atau tingkat kesalahan teringan sampai kesalahan dengan tensi terberat sekalipun. Masih bisa dimaklumi memang bila kasus yang terjadi dalam level tertentu, hal itupun relative tentunya tergantung efek yang timbul terhadap pihak korban. Namun bila sudah memasuki wilayah tugas, disiplin, apalagi menyangkut keimanan sepertinya owah gingsir ini harus dihadapkan dengan kartu merah. Jangan beri ruang untuk kelalaian dan kesalahan disengaja bila menyangkut hal-hal di atas. Hingga jangan jadi kebiasaan pelaksanaan tugas sekali kali diabaikan, kedisiplinan sekali kali dilanggar, negara sekali kali dipertaruhkan martabatnya, bahkan keimanan sekali kali digadaikan semata berlindung di balik ruang ‘owah gingsir’. Terkait dengan kewajiban dan norma mungkin banyak hal yang mengingatkan untuk senantiasa kembali keluar dan menjauh dari zona owah gingsir sebab kita dihadapkan dengan funisment atau bahkan Hukum yang berlaku. Namun apabila terkait kedisiplinan dan gapaian cita-cita pribadi misalnya kita sangat butuh niat serta komitmen yang kuat untuk tetap berusaha maksimal dalam upaya menggapainya. Apabila owah gingsir melemahkan semangat penggapaian apalagi membelokan arah maka potensi berantakan menyongsong memporak-porandakan masa depan kita. Begitu pula iman kadang-kadang dapat berubah, berkurang atau bertambah. Pengalaman hidup yang menyebabkan penderitaan ada kalanya sangat berat, sehingga orang merasa tenggelam di dalam tumpukan penderitaan yang datang silih berganti. Keadaan demikian berpotensi keimanan kita kepada Allah menjadi goncang. Bahkan lebih ekstrem mungkin ada yang merasa tidak percaya lagi kepada-Nya. Bila dalam keadaan yang demikian tidak menemukan orang yang dapat dijadikan tempat mengadu, kemungkinan besar menjadi putus asa. Tidak jarang pikiran untuk bunuh diri timbul dalam hati seseorang. Kegoncangan iman itu, benar-benar akan menyebabkan derita pada orang-orang tertentu. Ia dihadapkan kepada suatu konflik kejiwaan yang tidak mudah diatasi, bahkan mungkin membawa kepada situasi kegalauan atau bahkan gangguan kejiwaan. Untuk menghindari dan mengatasi hal-hal tersebut, semacam keraguan hati dan owah gingsir di dalam Al Qur,an cukup banyak terdapat do’a-do’a yang diajarkan oleh Allah SWT. Dan dilakukan oleh nabi-nabi- Nya, Sebagaimana do’a mohon kemantapan hati dalam beriman (surat Ali Imran ayat 8-9) yang artinya : “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Karunia.” Do’a yang lain lagi terkait permintaan ketabahan hati dan keteguhan pendirian serta pertolongan Allah dalam menghadapi orang kafir (surat Al-Baqarah ayat 250) yang artinya : “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkan pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Karena itu, mari biasakan membaca do’a pada setiap kesempatan. Janganlah tinggalkan sajadah sebelum kita lantunkan do’a. Banyak hal harus kita laksanakan, harus kita gapai dengan penuh kesungguhan. Jangan cita-cita besar kita terkontaminasi bahkan gagal gara-gara dalam perjalanannya kita termakan owah gingsir / sikap yang tidak teguh. Tetapkan hati, kukuhkan niat dalam bekerja, melaksanakan kewajiban pekerjaan, sikap social dan juga dalam hal beribadah senantiasa maksimal dan optimal sesuai kapasitas kemampuan kita. Beri penguatan dengan senantiasa berdo’a kepada Allah, semoga Allah SWT. melimpahkan hati yang senantiasa suka berdo.a kepada kita semua. Amin –

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Minggu, 31 Januari 2016 2 komentar

Kerja Sama Guru dalam Lesson Study Oleh : Uju Gunawan, S.Pd. M.Pd. 1. Pengertian Lesson Study Lesson Study merupakan suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Lesson Study bukan suatu metode pembelajaran atau suatu strategi pembelajaran, tetapi dalam kegiatan Lesson Study dapat memilih dan menerapkan berbagai metode/strategi pembelajaran yang sesuai dengan situasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi pendidik. Lesson study dapat merupakan suatu kegiatan pembelajaran dari sejumlah guru dan pakar pembelajaran yang mencakup 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu perencanaan (planning), implementasi (action) pembelajaran dan observasi serta refleksi (reflection) terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Lesson Study yang dalam bahasa Jepang disebut Jugyokenkyu adalah bentuk kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru/sekelompok guru yang bekerja sama dengan orang lain (dosen, guru yang sama/guru satu tingkat kelas yang sama, atau guru lainya), merancang kegiatan untuk meningkatkan mutu belajar siswa dari pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru dari perencanaan pembelajaran yang dirancang bersama/sendiri, kemudian di observasi oleh teman guru yang lain dan setelah itu mereka melakukan refleksi bersama atas hasil pengamatan yang baru saja dilakukan. Refleksi bersama merupakan diskusi oleh para pengamat dan guru pengajar untuk menyempurnakan proses pembelajaran dimana titik berat pembahasan pada bagaimana siswa belajar, kapan siswa belajar, kapan siswa mulai bosan mendapatkan pengetahuan dan kapan siswa mampu menjelaskan kepada temannya dan kapan siswa mampu mengajarkan kepada seluruh kelas. Lewis menyatakan bahwa Lesson Study merupakan siklus kegiatan kelompok guru yang bekerja bersama dalam menentukan tujuan pembelajaran, melakukan”research lesson”dan secara berkolaborasi mengamati, mendiskusikan dan memperbaiki pembelajaran tersebut. Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru (in-service) yang dapat dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan diwilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi dan dengan guru diluar bidang studi, bahkan dengan masyarakat. Lesson Study merupakan kolaboratif antara guru dalam menyusun rencana pembelajaran beserta research lessonnya, pelaksanaan KBM dikelas yang disertai observasi dan refleksi. Dengan lesson study para guru dapat leluasa meningkatkan kinerja dan keprofesionalannya yang akhirnya dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan meghasilkan siswa yang berkualitas tinggi 2. Tujuan Lesson Study Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki 4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk: a. Memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; b. Memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; c. Meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif; d. Membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya. 3. Manfaat Lesson Study Menurut Lesson Study Project (LSP) manfaat yang bisa diambil dari Lesson Study, diantaranya: 1) Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kinerjanya, 2) Guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota lainnya, dan 3) Guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study. Sedangkan menurut Caterine Lewis mengemukakan bahwa manfaat Lesson Study adalah : a. Memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan dibelajarkan kepada siswa, b. Memikirkan secara mendalam tentang tujuan-tujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan siswa, misalnya tentang arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir siswa, serta kegandrungan siswa terhadap ilmu pengetahuan, c. Mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran melalui belajar dari para guru lain (peserta atau partisipan Lesson Study), d. Belajar tentang isi atau materi pelajaran dari guru lain sehingga dapat menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada siswa, e. Mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan pembelajaran maupun selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran, f. Membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para guru bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan siswa, dan g. Mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang perilaku belajar siswa bisa semakin detail dan jelas. 4. Tipe-tipe Penyelenggaraan Lesson Study Terkait dengan penyelenggaraan Lesson Study, Slamet Mulyana (2007) mengetengahkan tentang dua tipe penyelenggaraan Lesson Study, yaitu a. Lesson Study berbasis sekolah. Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua guru dari berbagai bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. b. Lesson Study berbasis KKG Lesson Study berbasis KKG merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh kelompok guru tertentu, dengan pendalaman kajian tentang proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi. Dalam hal keanggotaan kelompok, Lesson Study Reseach Group dari Columbia University menyarankan cukup 3-6 orang saja, yang terdiri unsur guru dan kepala sekolah, dan pihak lain yang berkepentingan. Kepala sekolah perlu dilibatkan terutama karena perannya sebagai decision maker di sekolah. Dengan keterlibatannya dalam Lesson Study, diharapkan kepala sekolah dapat mengambil keputusan yang penting dan tepat bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya.

Diposkan oleh UJU GUNAWAN, S.Pd. M.Pd. Jumat, 31 Juli 2015 0 komentar

Subscribe here

Uju Gunawan

Foto saya
Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat, Indonesia
Jangan pernah terlalu bersedih dengan apa yang luput darimu juga jangan terlalu bergembira dengan apa yang telah kau dapatkan.... Sikapi semua dengan wajar dengan penuh rasa syukur..OK!
Ada kesalahan di dalam gadget ini